Pandemi membuat Uber dalam bahaya saat pendapatannya jatuh

·Bacaan 2 menit

San Francisco (AFP) - Uber pada Kamis melaporkan bahwa mereka menderita kerugian 1,1 miliar dolar AS pada kuartal yang baru-baru ini berakhir, karena pandemi menghantam bisnis tumpangannya (ride-hailing), meski layanan pengiriman makanannya meningkat.

Total pendapatan turun 18 persen dari setahun sebelumnya dan kerugian kuartal ketiga sedikit lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan dalam unit mobilitas Uber turun 53 persen dari kuartal yang sama tahun lalu, sementara uang yang diambil di Uber Eats, yang mencakup pengiriman makanan restoran atau pesanan lainnya, meningkat lebih dari dua kali lipat, menurut perusahaan yang berbasis di San Francisco itu.

"Meskipun respons pandemi tidak merata dan ketidakpastian ekonomi lebih luas, cakupan global kami, diversifikasi, dan eksekusi tak kenal lelah tim memberikan hasil yang terus meningkat," kata kepala eksekutif Dara Khosrowshahi dalam sebuah rilis laba.

Saham Uber yang telah didukung oleh kemenangan inisiatif yang memungkinkan pengemudi tetap diklasifikasikan sebagai kontraktor independen di California melayang sedikit lebih rendah.

Permintaan tumpangan secara langsung berkorelasi dengan pembatasan pandemi lock-down di kota-kota, dan mobilitas Uber serta unit pengiriman diposisikan untuk memanfaatkan kembali ke gaya hidup sebelum virus, kata Khosrowshahi dalam panggilan konferensi antara manajemen dengan analis, investor, dan media.

"Uber menjadi aplikasi yang tepat untuk berkeliling atau mengirimkan sesuatu kepada Anda dalam 30 menit," kata Khosrowshahi.

Pandemi global telah menghambat upaya Uber untuk meraih keuntungan, tetapi para eksekutif mengatakan mereka tetap optimis.

"Saat pertumbuhan konsolidasi kembali, itu akan kembali ke fondasi yang lebih menguntungkan," kata kepala keuangan Nelson Chai.

Pengemudi menjauh dan juga penumpang, berbagi ketakutan akan Covid 19, menurut Uber.

"Kami harus memastikan bahwa pengemudi, memahami bahwa mengemudi dengan aman," kata Khosrowshahi.

"Mereka adalah manusia dan apa yang terjadi di luar sangat sulit."

Uber menawarkan insentif agar pengemudi kembali ke jalan untuk layanan tersebut. Sementara itu, penumpang yang menggunakan layanan tersebut cenderung adalah orang-orang yang tidak memiliki pilihan untuk tinggal di rumah karena pekerjaan mereka, dan mereka sangat sensitif terhadap harga, menurut Khosrowshahi.

Prospek Uber cerah minggu ini dengan lolosnya referendum California yang memungkinkannya dan operator "gig ekonomi" (tren dimana perusahaan lebih memilih mempekerjakan pekerja lepas/freelance dan pekerja kontrak daripada pekerja penuh waktu) lainnya untuk mempertahankan model bisnis kontraktor-pengemudi mereka.

Tindakan yang dikenal sebagai Proposisi 22 secara efektif membatalkan undang-undang negara bagian yang mengharuskan perusahaan transportasi online dan lainnya untuk mengklasifikasi ulang pengemudi mereka dan memberikan tunjangan bagi karyawan.

"Anda akan melihat kami lebih lantang mengadvokasi undang-undang baru seperti prop 22," kata Khosrowshahi.

"Merupakan prioritas bagi kami untuk bekerja dengan pemerintah di seluruh AS dan dunia untuk mewujudkannya."

Penyelenggara perburuhan telah berjanji untuk memperjuangkan hak-hak pekerja, yang mereka katakan terkikis oleh inisiatif yang membiarkan layanan berbagi tumpangan dan pengiriman dalam ponsel pintar "gig ekonomi" tidak memberikan keamanan bagi mereka yang menyelesaikan pekerjaan.

"Ini adalah cara bagi sektor yang sangat tidak menguntungkan untuk membeli sendiri sewa baru untuk kehidupan dan menipu legislator," kata peneliti pusat tenaga kerja UCLA Brian Justie tentang Prop 22.

"Saya tidak berpikir banyak pekerja yang senang dengan ini."