Pandemi Virus Corona, Amankah Perawatan ke Klinik Kecantikan?

Tasya Paramitha

VIVA – Saat ini pemerintah menerapkan transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) setelah sekitar tiga bulan masyarakat diminta untuk di rumah aja. PSBB transisi diberlakukan karena menurunnya perekonomian selama pandemi virus corona.

Era tatanan hidup baru atau new normal ini pun menjadi salah satu cara agar bisnis tetap bisa berjalan.

Bisnis kecantikan dan kesehatan wajah serta tubuh merupakan salah satu yang terdampak COVID-19, karena bersentuhan langsung dengan manusia, sehingga berpotensi besar dalam penularan virus. Namun, saat ini sejumlah klinik kecantikan dan kesehatan telah kembali buka di masa transisi PSBB.

Lalu, amankah melakukan perawatan di klinik kecantikan di masa pandemi virus corona?

Founder dan penanggung jawab Youth & Beauty Clinic, dr. Gaby Syerly, M.Biomed (AAM) mengatakan bahwa new normal di masa pandemi menjadi salah satu kebiasaan yang harus diterapkan dengan standar protokol kesehatan, agar terhindar dari virus mematikan COVID-19.

Kebiasaan itu juga ia lakukan di kliniknya yang mulain Juli 2020 telah kembali dibuka setelah dua bulan lebih ditutup sementara. Klinik kecantikan yang berlokasi di Kemang Square lantai 1, Jakarta Selatan ini melakukan persiapan matang sebelum membuka outlet-nya.

Perawatan kecantikan.

Menurut Gaby, pihaknya mengutamakan prosedur standar kebersihan dan kesehatan. Jumlah pasien pun dibatasi. Pasien harus menggunakan hand sanitizer saat masuk ke klinik, mengecek suhu dan mengisi formulir online tentang kondisi tubuh terkini menggunakan scan barcode.

Ada pula fasilitas rapid test gratis dan suntik vitamin C bagi para pasien. Ini dilakukan untuk memproteksi diri, baik dari pihak pasien maupun staf yang bekerja di klinik.

“Kami mengutamakan protokol kesehatan dan keamanan yang menjadi keharusan saat new normal ini.” ucap Gaby kepada VIVA, Rabu, 1 Juli 2020.

Klinik juga mengatur jadwal pasien dengan memberi jeda waktu, physical distancing di ruang tunggu, mensterilkan ruangan dengan sinar UV atau menyemprotkan cairan disinfektan setiap selesai pasien dan mengganti cover bed setiap selesai treatment.

Para beautician yang bertugas juga selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap dan tidak ketinggalan penyemprotan cairan disinfektan secara berkala ke seluruh ruangan.

Perawatan kecantikan.

Sementara untuk perawatan yang mengeluarkan asap, seperti laser yang menggunakan karbon, untuk sementara ditiadakan dulu karena memicu risiko penularan virus corona.

Gaby juga mengatakan kalau klinik kecantikan menjadi salah satu tujuan utama para wanita dan pria yang gemar merawat diri setelah usai masa PSBB.

“Mereka merasakan dampak yang kurang baik dari sisi kesehatan kulit, di antaranya kulit makin terlihat kusam, timbulnya jerawat hingga berat badan yang mengakibatkan postur tubuh terlihat tidak ideal,” kata dia.

Gaby menjelaskan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena stres, makan makanan berminyak atau gorengan dan waktu tidur kurang teratur karena jam kerja di rumah menjadi tidak beraturan juga. Namun, hal tersebut bisa diantisipasi dengan penggunaan produk skincare rutin di rumah.

Bagi yang kurang nyaman untuk keluar rumah, Gaby menyiasatinya dengan memberikan melayani jasa konsultasi online dan homevisit, atau treatment di rumah. Apabila tidak berani untuk keluar rumah, tim klinik akan datang dengan standar SOP kesehatan. Beberapa jenis treatment ditawarkan untuk tetap sehat dan cantik walau di rumah aja.