Panen Karya Kreatif, Anak Milenial Perlu Pahami Aset Intelektual

Donny Adhiyasa
·Bacaan 2 menit

VIVA – Berbagai produk kreatif berbasis kekayaan intelektual tentu seringkali kita nikmati. Besarnya potensi ekonomi dari aneka produk turunan dari karya-karya berbasis kekayaan intelektual menjadi sesuatu yang sangat punya nilai untuk terus dikelola dengan baik.

Dan semangat itu pula yang menjadi ide awal digagasnya program berbasis bimbingan teknis (bimtek) CHSE dan komersialisasi produk kreatif berbasis kekayaan bertajuk Katapel Jakarta yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta bersama Katapel.ID.

Dalam agenda yang berlangsung pada 20-23 Desember 2020 lalu tersebut, peserta bimtek ini dibekali pengetahuan tentang kekayaan intelektual, pengembangan hak kekayaan intelektual kreatif dan cara komersialisasinya. Bukan itu saja, peserta juga difasilitasi untuk mendaftarkan merek hak kekayaan intelektual (HKI) mereka.

“Kreatifitas anak-anak muda di Jakarta memiliki potensi yang sangat besar untuk kita kembangkan. Sebagai bentuk nyata dari semangat city of collaboration, pemerintah hadir melalui kegiatan ini. Harapannya lebih banyak anak muda mengerti industri kekayaan intelektual, dan mendapatkan nilai ekonomi yang maksimal. Sehingga Jakarta akan dikenal sebagai ekosistem yang tepat bagi para kreator.” ungkap Gumilar Ekalaya selaku Plt. Kepala dinas pariwisata dan ekonomi kreatif DKI Jakarta.

“Di masa pandemi ini, ketika taman wahana mengalami penurunan yang drastis dari sisi pengunjung, Disney beralih ke Disney+ dan menjadi salah satu penyelamat mereka. Ini membuktikan industri kekayaan intelektual kreatif mempunyai masa depan yang cerah. Dan kita, kreator Indonesia bisa segera mengambil bagian di dalamnya melihat kita mempunyai potensi yang tinggi.” terang Bambang Sutedja sebagai praktisi lisensi senior dalam kelas kreatif yang ia berikan.

Pemaparan Bambang Sutedja ini disebutkannya merujuk pada Bumilangit yang baru-baru ini menjalin kerjasama dengan Disney+ Hotstar. Sementara itu narasumber lain, Helena Irma menekankan pentingnya pengetahuan akan kebutuhan market.

“Dalam pengembangan sebuah karya intelektual dibutuhkan perencanaan yang matang. Bukan hanya sekedar menciptakan karakter tapi harus berdasarkan target market yang dituju. Sehingga karakter yang disajikan sesuai dengan kebutuhan target market kita,” jelas Helena Irma.

Melalui program ini Pemilik Brand bisa mengenal langsung dan melihat sudah seberapa jauh komersialisasi kekayaan intelektual lokal, yang mana mempunyai potensi besar untuk bersanding dengan kekayaan intelektual dunia. Forum ini juga sebagai upaya dari program Katapel untuk menciptakan ekosistem bagi pelaku ekonomi kreatif.

"Ajang ini dirasakan perlu sebab selama ini banyak kreator memiliki kekayaan intelektual namun kesulitan melakukan komersialisasi,” ujar Robby Wahyudi selaku Program Director Katapel.ID.

Sederet pemateri dengan latar belakang praktisi kekayaan intelektual diundang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan, antara lain Mochtar Sarman, Helena Irma, Bambang Sutedja, Rahadian Agung, Ade Novita dan lainnya.