Pangdam Jaya Sosok Jenderal TNI Penggempur Gerakan Radikalisme FPI

Rifki Arsilan
·Bacaan 7 menit

VIVA – Pemerintah hari ini secara resmi telah mengumumkan pembubaran Ormas Front Pembela Islam (FPI). Pembubaran FPI itu disampaikan oleh Menkopolhukam Mahfud MD yang didampingi oleh sejumlah pejabat tinggi negara diantaranya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis, Menkumham Yassona Laoly, Mendagri Tito Karnavian, dan Kepala BIN Budi Gunawan. Dengan demikian, kini Ormas FPI secara resmi tidak dapat melakukan aktivitasnya di Indonesia.

Jauh sebelum pemerintah mengumumkan pembubaran Ormas FPI, ternyata ada sosok jenderal TNI bintang dua yang sangat lantang mensuarakan pembubaran FPI. Dia adalah Panglima Komando Daerah (Pangdam) Jaya/Jayakarta, Mayjen TNI Dudung Abdurachman.

Iya, sosok Pangdam Jaya sempat menjadi sorotan di tahun 2020 ini. Pada kesempatan kali ini, VIVA Militer akan mencoba mengulas aksi-aksi Pangdam Jaya sepanjang tahun 2020 dalam menghadapi ormas FPI yang diklaim sebagai embrio gerakan radikalisme di Indonesia.

Untuk diketahui, Mayjen TNI Dudung Abdurachman bisa dikatakan Jenderal bintang dua pendatang baru di Ibukota Jakarta. Sebelumnya Mayjen TNI Dudung belum pernah sama sekali bertugas di Jakarta. Dia menjabat sebagai Pangdam Jaya pada tanggal 27 Juli 2020 menggantikan Letjen TNI Eko Margiyono yang diangkat sebagai Pangkostrad.

Meski demikian, Mantan Gubernur Akademi Militer periode 2018-2020 itu sempat membuat gebrakan yang cukup mengejutkan masyarakat Indonesia pada tanggal 20 November 2020 lalu.

Sebagai pemegang tongkat kendali keamanan Ibukota Jakarta, Mayjen TNI Dudung Abdurachman dengan tegas menginstruksikan kepada seluruh anak buahnya untuk membelejeti baliho-baliho raksasa yang terpasang merata hingga pelosok Jakarta ketika menyambut kedatangan Imam Besar FPI Rizieq Shihab 10 November lalu setelah 3.5 tahun berada di Saudi Arabia.

Menurut Mayjen TNI Dudung, pemasangan baliho-baliho raksasa yang bertemakan ajakan jihad dan revolusi itu menyalahi ketentuan hukum yang berlaku. Kemarahannya memuncak ketika dia mendapatkan laporan bahwa ketiks petugas Satpol PP menurunkan baliho-baliho bergambar Rizieq Shihab di sejumlah titik daerah Jakarta dihalang-halangi oleh para simpatisan FPI.

"Iya itu perintah saya, Satpol PP menurunkan dinaikkan lagi, itu perintah saya. Siapa pun di republik ini, ini negara hukum, maka semua harus taat kepada hukum. Pasang baliho ada aturannya ada bayar pajaknya. Jangan seenaknya sendiri, seakan-akan paling benar, tidak ada itu. Jangan coba-coba. Kalau perlu FPI Bubarkan saja," tegas Pangdam Jaya.

Perintah Pangdam Jaya itu kemudian diikuti dengan sweeping baliho-baliho dengan mengerahkan kendaraan taktis dan pasukan motor TNI. Mereka bergerak dengan cepat, menelusuri jalan-jalan Ibukota hingga masuk ke Markas FPI di wilayah Petamburan, Jakarta Pusat. Dalam waktu sekejap, Jakarta bersih dengan baliho-baliho bergambar Rizieq Shihab yang bertemakan ajakan revolusi serta jihad yang dipasang oleh para simpatisan FPI.

Mayjen TNI Dudung Banjir Dukungan

Keputusan tegas Pangdam Jaya untuk menggempur aksi liar Ormas FPI itu pun mendapatkan dukungan dari masyarakat luas. Sejak tanggal 22 - 23 November 2020, halaman Kodam Jaya/Jayakarta yang terletak di sekitar Cililitan, Jakarta Timur mendadak dipenuhi karangan bunga.

Karangan bunga yang membanjiri halaman Kodam Jaya hingga ke trotoar jalan raya itu berisikan ucapan terima kasih dari masyarakat luas kepada Pangdam Jaya yang telah berani dalam mengambil tindakan untuk menertibkan baliho-baliho liar yang berisi ajakan jihad dan revolusi yang dipasang para simpatisan Ormas FPI di Ibukota Jakarta.

Tidak hanya itu, dukungan untuk kepada Pangdam Jaya juga datang secara langsung dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari para selebriti atau artis seperti Chika Jessica, Narji, Intan RJ, para jenderal TNI dan Polri, serta para tokoh agama lainnya, termasuk dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Perintah untuk menurunkan seluruh baliho liar FPI itu seperti pemantik bagi seluruh aparat penegak hukum baik di jajaran TNI maupun Polri untuk menindak tegas Ormas FPI dan para simpatisannya ketika melakukan pelanggaran protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19 yang dianggap meresahkan masyarakat luas.

Polri pun segera mengambil tindakan dengan menetapkan Imam Besar Rizieq Shihab dan sejumlah aktivis FPI lainnya sebagai tersangka kasus kerumunan di masa pandemi COVID-19 baik yang dilakukan di sekitar Markas FPI daerah Petamburan, Jakarta Pusat maupun di sekitar Pondok Pesantren Argokultural FPI di daerah Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat beberapa hari setelah kedatangan Rizieq Shihab di Jakarta.

Muncul Bersama Jenderal Polisi

Pada tanggal 7 Desember 2020, Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman kembali muncul ke tengah publik. Kali ini, Pangdam Jaya muncul bersama Kapolda Metro Jaya, Irjen.Pol.Fadil Imron di Mapolda Metro Jaya.

Dalam kesempatan itu, dua jenderal TNI dan Polri itu muncul menyampaikan kabar berita bahwa aparat kepolisian telah menindak tegas enam orang laskar FPI pengawal Rizieq Shihab yang diduga melakukan penyerangan terhadap aparat Kepolisian di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, KM 50.

Dari kejadian tersebut, aparat kepolisian telah menyita dua unit senjata api dan sejumlah senjata tajam berupa samurai. Dan kasus tewasnya enam orang laskar FPI itu kini masih dalam penyelidikan oleh Komnas HAM.

Kasus tewasnya enam laskar FPI itu telah membuat situasi keamanan sedikit mencekam. Penembakan enam laskar FPI itu kemudian diikuti dengan aksi menyerahkan diri Rizieq Shihab pada tanggal 12 Desember 2020 lalu. Kemudian, pada tanggal 18 Desember 2020 ribuan simpatisan FPI di Jakarta berencana melakukan aksi dengan menuntut agar Pemerintah membebaskan Rizieq Shihab dan mengusut tuntas kasus pembunuhan terhadap enam laskar FPI itu.

Rencana aksi para simpatisan FPI yang dikenal dengan Gerakan 1812 itu pun kembali disikapi oleh Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman. Jenderal TNI bintang dua itu bergerak bersama Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Fadhil Imron untuk melarang para simpatisan FPI untuk melakukan aksi demonstrasi di masa pandemi COVID-19.

Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya pun sempat melakukan apel gelar pasukan dan melakukan konvoi pasukan dengan mengerahkan kendaraan taktis TNI dan Polri berkeliling Ibukota Jakarta. Hal itu dilakukan untuk menimbulkan rasa aman kepada masyarakat Ibukota DKI Jakarta bahwa kondisi keamanan Jakarta tetap stabil dan dalam pantauan aparat TNI dan Polri.

Ternyata benar saja, para simpatisan FPI tidak menggubris larangan Polri dan TNI tersebut, mereka tetap bersikeras untuk melakukan aksi dan mendatangi sekitar jalan MH.Thamrin dengan jumlah yang cukup banyak.

Dengan waktu yang singkat, kekuatan TNI dan Polri pun langsung membubarkan kerumunan massa aksi itu dengan tertib. Tapi sayangnya, dalam aksi tersebut dinodai dengan aksi pembacokan yang dilakukan oleh salah satu masa aksi terhadap satu orang angggota polisi yang berusaha membubarkan massa aksi. Sejumlah massa aksi pun berhasil diamankan oleh aparat kepolisian.

Penyebab Kemarahan Mayjen TNI Dudung kepada FPI

Dikutip VIVA Militer dari Youtube Kanal Anak Bangsa, 30 Desember 2020, Lulusan Akademi Militer tahun 1988 itu mengungkapkan alasannya yang menginginkan Ormas FPI itu dibubarkan.

Mayjen TNI Dudung menyatakan, kejadian nyata pernah terjadi di daerah Jakarta Utara ketika petugas Satpol PP yang berusaha menurunkan baliho bergambar Rizieq Shihab didatangi oleh masa simpatisan FPI. Mereka meminta Satpol PP itu kembali memasang baliho tersebut.

"Nah, coba ini mereka ini siapa kok seperti ini?" kata Mayjen TNI Dudung Abdurachman.

Pangdam Jaya yang baru pertama kali bertugas di DKI Jakarta tahun 2020 itu mengaku langsung mempelajari asal muasal Ormas FPI tersebut. Ternyata, lanjut Mayjen TNI Dudung, dia menemukan bahwa Ormas FPI itu ternyata organisasi yang mengatasnamakan identitas agama, dan sering kali melakukan penghasutan kepada masyarakat luas.

"Saya pelajari itu semua. Saya lihat dari videonya Rizieq Shihab itu kalau berbicara selalu menjelek-jelekan TNI, Polri, bahkan tidak segan-segan menjelek-jelekan pemerintah, pemimpin nasional presiden kita. Saya bilang, lah kok ini enggak ada yang bertindak yaa seperti ini," kata Pangdam Jaya.

"Dia katain TNI Unyil lah, ngatain polisi lah, kan kurang ajar itu. Memang dia itu siapa?" tambahnya.

Lebih jauh Mayjen TNI Dudung mengatakan, seharusnya figur Rizieq Shihab dapat menjadi tauladan bagi para seluruh pengikutnya. Menurut Dudung, Rizieq Shihab tidak pantas mengisi tausiyah agama dengan hasutan yang diikuti dengan ajakan melawan pemerintah.

"Ini kan berbahaya sebenarnya. Berbahayanya lagi gerakan mereka seperti ini dapat memecah persatuan dan kesatuan. Saya yakin semua masyarakat, bukan hanya di Jakarta kalau melihat seperti itu saya yakin semua bertanya-tanya. Apa iya seorang habib bicaranya seperti itu? menghasut jamaahnya, memprovokasi. Habib itu tauladan dia harusnya, seperti yang saya katakan, seorang habib itu hatinya baik, pemikirannya baik, tindakannya juga baik, selaras semuanya. Ini bahaya, kita khawatir jangan sampai seperti di negara-negara timur tengah, Syiria sana Indonesia ini, apa iya negara ini mau seperti itu?" papar Pangdam Jaya.