Pangdam Tanjungpura Lepas Pasukan Walet Sakti ke Kongo

Rifki Arsilan
·Bacaan 1 menit

VIVA – Panglima Kodam XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad melepas secara resmi 488 personel Batalyon Infanteri (Yonif) Raider Khusus 644/Walet Sakti untuk bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Republik Demokratik Kongo.

488 prajurit tempur TNI AD itu akan tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Gerak Cepat (BGC) TNI Kontingen Garuda XXXIX-C MONUSCO Kongo selama satu tahun kedepan dibawah komando Letkol Inf Arisunu

Pangdam Tanjungpura menjelaskan, keberangkatan Yonif RK 644/Wls dilatarbelakangi oleh prestasi yang sudah ditorehkan oleh satuan pada penugasan sebelumnya.

Menurutnya, pada tahun 2018 batalyon ini ditugaskan di daerah Kodam XVII/Cenderawasih Provinsi Papua di Kabupaten Keerom. Selama penugasan satuan Walet Sakti berhasil melaksanakan pembinaan terhadap masyarakat, tidak ada pelanggaran dan semuanya kembali dalam keadaan selamat.

"Sebagai bentuk apresiasi dari pimpinan TNI maka batalyon ini berkesempatan untuk melaksanakan tugas operasi dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia di bawah PBB di negara Kongo," kata Pangdam Tanjungpura Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmat dikutip VIVA Militer dari keterangan resminya, Selasa, 5 Januari 2020.

Lebih jauh Mantan Aspam Kasad itu menambahkan, dalam menjalankan misi perdamaian dunia itu, Indonesia telah memberangkatkan sebanyak 850 personel gabungan dari TNI AD, AL dan AU.

"Tentunya kita mengharapkan batalyon ini nantinya diberikan keberhasilan dalam mengemban misi sebagai pasukan - pasukan pemelihara perdamaian dunia dibawah PBB," ujarnya.

Berkaitan dengan masih berlangsungnya pandemi Covid-19, Mayjen TNI Muhammad juga meminta kepada para prajurit yang bertugas di Kongo untuk selalu melaksanakan disiplin didalam penegakan protokol kesehatan.

"Salah satu upaya juga tadi kita bekali dengan buku petunjuk, pamlet dan brosur tentang pedoman perubahan perilaku. Selain untuk melindungi prajurit ini juga bisa menjadi sarana dalam rangka penugasan di dalam menegakan protokol kesehatan di daerah operasi," kata Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad.