Pangeran Charles Ingatkan Perusahaan Jangan Hanya Pikirkan Laba Rugi

Raden Jihad Akbar, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – The Prince of Wales, Pangeran Charles, mengungkapkan ambisinya dalam menjadikan alam sebagai inti dari ekonomi dan sebagai bagian utama dari masa depan umat manusia di dunia.

Hal itu diutarakannya, saat membuka Dasgupta Review Webinar yang digelar Kedutaan Besar Inggris dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

"Dengan mengakui adanya nilai fundamental dari alam, itulah kenapa saya membentuk Natural Capital Investment Alliance yang bertujuan untuk menjadikan modal alam sebagai tema investasi bagi beragam aset," kata Pangeran Charles dalam telekonferensi, Kamis 8 April 2021.

"Dan pada waktu bersamaan memobilisasi US$10 miliar untuk investasi modal untuk alam selama beberapa tahun ke depan," ujarnya.

Natural Capital Investment Alliance merupakan aliansi yang menyediakan pengetahuan dan alat hingga investasi yang membantu sektor keuangan dan mitra lainnya untuk bekerja sama mengurangi dan mengelola risiko, dampak, dan ketergantungan lingkungan.

Aliansi itu membantu mendorong inovasi dan mengembangkan solusi praktis yang diperlukan untuk lebih memahami risiko, mengejar peluang, dan membangun pondasi untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan.

Dipimpin oleh Komite Pengarah yang terdiri dari Lembaga Keuangan terkemuka dan pakar lingkungan, mereka akan mengawasi strategi dan memberikan arahan serta pengawasan untuk anggota aliansi. Sementara, secara paralel turut menguji alat dan metode yang dikembangkan.

Charles menegaskan, masyarakat dunia tentunya juga harus menempatkan harapan kita akan suplai yang bisa diberikan kepada alam, dan harus disesuaikan dengan kapasitas untuk memenuhi suplai tersebut.

Menurutnya, masyarakat dunia harus bersama-sama mengatur sumber daya alam sebaik mungkin, agar tidak terjadi eksploitasi yang kerap mengesampingkan dampak dari kerusakan alam dan lingkungan akibat dari berbagai macam kegiatan.

Selain itu, masyarakat dunia juga harus berupaya untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan di dunia ini juga bisa memikirkan upaya-upaya yang diperlukan, guna menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Secara bertanggung jawab, lanjut Charles, para pemimpin dunia harus menggunakan alat ukur yang tepat, seperti misalnya PDB sebagai suatu alat ukur meskipun tidak lengkap, untuk mengukur kinerja ekonomi makro dan juga kesetaraan kesehatan yang juga harus menjadi alat ukur utama.

"Sementara di tingkat mikro, kita tidak boleh hanya sekadar mengukur laba bagi para pemegang saham, tapi juga harus mengukur dampak yang ditimbulkan oleh korporasi terhadap lingkungan hidup dan manusia," kata Charles.

"Karena hal ini (menjaga kelestarian alam dan lingkungan) juga sangat penting bagi masyarakat dan perekonomian kita, agar dapat terus hidup," ujarnya.