Pangkas Pengeluaran Twitter, Elon Musk Ogah Bayar Tagihan Vendor

Merdeka.com - Merdeka.com - Sebelum Elon Musk membeli Twitter bulan lalu, para eksekutif perusahaan telah mengumpulkan ratusan ribu dolar untuk tagihan travel yang rencananya akan segera dibayar. Namun, begitu Elon Musk mengambil alih perusahaan, karyawan Twitter mengabarkan bahwa Musk menolak untuk membayar tagihan tersebut.

Dilansir dari The New York Times, Kamis (24/11), staf Musk mengatakan bahwa layanan tersebut disahkan oleh mantan manajemen perusahaan dan bukan oleh CEO barunya. Stafnya tersebut pun diketahui telah menghindari panggilan dari vendor travel terkait.

Di samping itu, Musk memang telah memulai kampanye pemangkasan pengeluaran yang sangat besar sejak mengakuisisi Twitter senilai 44 miliar dolar. Dia awalnya memangkas setengah dari 7.500 tenaga kerja perusahaan dan melanjutkan dengan PHK baru-baru ini pada Senin (21/11).

"Musk juga telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap semua jenis biaya lain di perusahaan, menginstruksikan staf untuk meninjau, menegosiasikan ulang, dan dalam beberapa kasus sama sekali tidak membayar vendor luar Twitter," kata sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Musk dan penasihatnya telah mendalami pandangan mereka tentang biaya komputasi yang mendukung infrastruktur dasar Twitter, biaya perjalanan, layanan perangkat lunak, real estat, dan bahkan makanan kafetaria di kantor perusahaan yang biasanya mewah. Pengeluaran Twitter pun telah turun, tetapi langkah tersebut memicu keluhan dari orang dalam, serta beberapa vendor yang dihutangi jutaan dolar.

Tindakan Musk mencerminkan tekanan keuangan yang dialami Twitter. Perusahaan itu mengambil pinjaman 13 miliar dolar untuk pembelian jaringan sosialnya. Pembayaran bunga untuk utang itu berjumlah lebih dari 1 miliar dolar per tahun.

Twitter sendiri dikabarkan telah lama menghadapi kesulitan keuangan, seringkali kehilangan uang demi bersaing dengan kompetitor seperti Facebook dan Google yang secara efektif memonetisasi produk periklanan mereka. Sementara itu, beberapa pengiklan telah menghentikan iklan mereka di Twitter saat mengevaluasi kepemilikan Musk.

Musk pun telah memberi tahu karyawan Twitter bahwa gambaran ekonomi perusahaan di masa depan sangat mengerikan dan kebangkrutan mungkin akan terjadi.

Reporter Magang: Dinda Khansa Berlian [faz]