Panglima Militer Israel Umumkan Rencana Penyerangan Iran

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Teheran - Kepala militer Israel pada Selasa, 26 Januari 2021 memperingatkan pemerintahan Joe Biden agar tidak bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran 2015.

Jika itu dilakukan, dia berencana akan memerintahkan pasukannya untuk meningkatkan persiapan guna kemungkinan tindakan ofensif terhadap Iran.

Komentar Letjen Aviv Kohavi datang ketika Israel dan Iran berusaha menekan Presiden AS Joe Biden menjelang pengumuman yang diharapkan tentang pendekatannya untuk menangani program nuklir Iran.

Di Iran, para pemimpin mengatakan mereka tidak akan menunggu tanpa batas waktu Joe Biden untuk bertindak.

Dikutip dari laman Daily Sabah, Kamis (28/1/2021), kesepakatan 2015 membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi.

Israel sangat menentang kesepakatan itu, mengatakan bahwa itu tidak termasuk pengamanan yang cukup untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Joe Biden mengatakan dia akan berusaha untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu, dengan beberapa perubahan.

Program Nuklir Iran Jadi Ancaman

Ilustrasi nuklir Iran (AFP)
Ilustrasi nuklir Iran (AFP)

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, Biden ingin bekerja dengan sekutu tentang masalah Iran.

Dalam pidatonya di Institute for National Security Studies, Kohavi mengatakan kesepakatan kembali sangat "buruk secara operasional dan buruk secara strategis".

Dia mengatakan, mengizinkan Iran untuk melanjutkan program nuklir akan menjadi "ancaman yang tidak dapat diterima dan akan menyebabkan proliferasi nuklir di seluruh wilayah." Sementara, Iran mengatakan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.

Kohavi mengatakan bahwa mengingat ancaman yang ditimbulkan oleh Iran, militer Israel akan bersiap untuk menyerang sendiri jika diperlukan.

"Saya perintahkan tentara Israel untuk menyiapkan sejumlah rencana operasional selain yang sudah ada," ujarnya.

"Kami sedang mengurus rencana ini dan akan mengembangkannya selama tahun mendatang. Yang memutuskan untuk melaksanakannya, tentu saja adalah para pemimpin politik. Tapi rencana ini sudah harus ada di atas meja."

Simak video pilihan di bawah ini: