Panjat tebing Indonesia jaring bibit atlet untuk "lead" dan "boulder"

·Bacaan 2 menit

Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Yenny Wahid menyatakan akan terus berusaha menjaring bibit atlet baru untuk nomor lead dan boulder, yang tak hanya memenuhi syarat secara fisik, tetapi juga mental serta kemampuan otak yang cukup tinggi.

Yenny mengungkapkan saat ini Indonesia masih memiliki kelemahan untuk nomor tersebut. Untuk itu, dibutuhkan dukungan dari seluruh pihak, termasuk masyarakat yang diharapkan proaktif berkomunikasi dengan FPTI jika menemukan bibit unggul di lapangan.

Menurut dia, untuk menciptakan atlet dengan kemampuan di nomor lead dan boulder serta dari sisi combined, diperlukan banyak faktor pendukung. Namun, faktor tersebut juga harus dilihat secara sistematis, bukan dari sisi atletnya saja.

"Kita harus bisa menciptakan sistem yang lebih baik untuk mendukung prestasi mereka. Nah, bukan cuma atlet yang dilatih, tetapi termasuk pembuat jalur. Di situlah atlet bisa berlatih dengan berbagai macam kreasi atau berbagai macam jalur yang berbeda sehingga mereka bisa lebih terbiasa untuk bertanding dalam model apa pun," kata Yenny Wahid dalam keterangan resminya, Kamis.

Baca juga: Yenny Wahid yakin panjat tebing berjaya pada Olimpiade 2024

Ia menjelaskan untuk nomor lead dan boulder, tidak bisa sekadar bicara soal kecepatan dan kekuatan otot atlet. Dalam nomor tersebut juga dibutuhkan Intelligence Quotients (IQ) yang cukup tinggi karena atlet harus bisa mengambil keputusan tepat dalam waktu singkat.

"Atlet harus cepat ambil keputusan strategis, buat mapping, jalur akan seperti apa, rute mana yang akan diambil. Itu kan split second. Terjadi dalam hitungan seperberapa detik. Itu memerlukan intelektualitas, intelijensi yang cukup tinggi," ujar Yenny.

Untuk cabang olahraga panjang tebing, Indonesia dapat berbicara banyak dalam nomor speed. Bahkan, rekor dunia saat ini dipegang oleh atlet Indonesia, yakni Veddriq Leonardo yang mampu mencatatkan waktu 5,208 detik pada ajang IFSC Climbing World Cup 2021 di Salt Lake City, Amerika Serikat, 28 Mei 2021.

Selain itu, Indonesia juga punya Kiromal Katibin yang finis di urutan kedua di IFSC Climbing World Cup.

"Indonesia diakui, dihormati dan dianggap sebagai lawan yang berat di mata dunia untuk kategori speed," ungkap Yenny.

Baca juga: Atlet Indonesia raih medali emas di Piala Dunia Panjat Tebing 2021
Baca juga: Atlet panjat tebing pecah rekor di AS, Menpora puji pembinaan PB FPTI

Atlet potensial lainnya adalah Rahmad Adi Mulyono dari Jawa Timur, yang menjadi pemenang IFSC Connected Speed Knockout yang digelar untuk pertama kalinya pada 2 Agustus 2020. Selain itu, ada juga atlet putri potensial, seperti Desak Made Rita Kusuma Dewi dari Bali.

Dengan hadirnya sejumlah nama tersebut, PP FPTI optimistis Indonesia bisa berbicara banyak di Olimpiade Paris 2024. Sebab, dalam ajang tersebut nomor speed putra dan putri akan dilombakan secara terpisah. Sehingga akan ada empat nomor yang dilombakan selain combined lead-boulder putra dan putri.

Hal ini berbeda dengan Olimpiade Tokyo yang hanya memperebutkan dua medali emas masing-masing untuk nomor kombinasi (speed, bouldering dan lead) putra dan putri.

Baca juga: Cedera paksa Bassa Mawem mundur dari final panjat tebing Olimpiade

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel