Panumpang Taksi Turun 70 Persen di Malam Tahun Baru

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, menyebut taksi sebagai moda angkutan umum dalam kota yang paling terpukul saat perayaan Tahun Baru 2021. Mengingat adanya penutupan sejumlah ruas jalan utama ibu kota untuk menghalau masyarakat yang hendak merayakan acara pergantian tahun.

"Kalau bisa kita bilang taksi ini yang paling terdampak parah saat tahun baru kemarin (2021). Karena jalan utama itu kan ditutup, seperti Sudirman, Thamrin dan lainnya," tegasnya saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu (2/1/2020).

Shafruhan mencatat, tingkat penurunan penumpang taksi sendiri mencapai 70 persen secara year on year (yoy). Menyusul terpangkasnya mobilitas masyarakat untuk melakukan perayaan saat malam pergantian tahun 2021.

"Penurunannya penumpang (taksi) ini berkisar 60 sampai 70 persen lah, jika dibandingkan tahun sebelumnya. Bisa di bayangkan saat jalan di tutup, pasti mobilitas orang juga ikut berkurang," paparnya.

Kendati demikian, moda antarkota antarprovinsi (AKAP) justru mencatatkan kenaikan penumpang di periode yang sama. Kenaikan sendiri berkisar antara 10 hinga 15 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

"Kalau AKAP justru naik. Ini berkisar 10 sampai 15 persen dibandingkan bulan sebelumnya," ucapnya.

Permintaan Organda

Penumpang memasukkan barang ke bagasi bus sebelum keberangkatan di Terminal Pulogebang, Jakarta, Selasa (27/10/2020). Memasuki libur panjang, jumlah penumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Terminal Pulogebang tujuan Jawa dan Sumatera mengalami peningkatan. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Penumpang memasukkan barang ke bagasi bus sebelum keberangkatan di Terminal Pulogebang, Jakarta, Selasa (27/10/2020). Memasuki libur panjang, jumlah penumpang bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Terminal Pulogebang tujuan Jawa dan Sumatera mengalami peningkatan. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Namun jika dibandingkan secara yoy, moda AKAP masih menunjukkan pertumbuhan negatif. Mengingat belum pulihnya mobilitas masyarakat akibat kian tak terkendalinya penyebaran virus Covid-19.

"Kenaikan positif hingga 15 persen itu, tapu masih belum mengangkat pertumbuhan secata positif ya dibandingkan tahun lalu. Kita perkirakan di musim tahun baru 2021 lalu maosh minus 40 persen karena penularan Covid-19 yang terus melonjak ini," tuturnya.

Oleh karena itu, Organda meminta pemerintah pusat maupun daerah untuk lebih serius dalam menangani pandemi Covid-19 di Indonesia. Antara lain dengan lebih meningkatkan pengawasan protokol kesehatan di masa kedaruratan kesehatan akibat penyebaran virus mematikan asal China itu.

"Intinya bagaimana pemerintah pusat dan pemda inibisa lebih serius mengatasi Covid-19. Sekarang ini pengawasannya saya fikir masih kurang untuk protokol kesehatan. Kuncinya disitu," tegasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

[vidio:Organda-Tarif-Angkutan]()