Papan Reklame Anti-Monarki Menjamur di Inggris, Minta Negara Jadi Republik

Merdeka.com - Merdeka.com - Papan reklame anti-monarki yang bertuliskan #NotMyKing (#BukanRajaSaya) menjamur pada berbagai kota di Inggris. Kota-kota besar seperti London, Newcastle, Edinburgh, Glasgow, Southampton, Manchester, dan lain-lain menjadi incaran papan reklame itu.

Papan reklame itu didirikan oleh kelompok aktivis yang menentang pemerintahan monarki Inggris, yaitu Republic. Kelompok aktivis itu sendiri dikenal aktif mengampanyekan agar Inggris berubah menjadi pemerintahan republik dan bukan kerajaan atau monarki lagi.

Tetapi di saat Inggris berada di masa berkabung karena kematian Ratu Elizabeth II, kelompok aktivis itu menghentikan sementara kegiatan mereka.

Aksi terakhir yang kelompok itu lakukan masih sama, yaitu merujuk masyarakat untuk mendukung perubahan Inggris menjadi republik. Bahkan dalam aksi terakhir, foto Raja Charles III terpampang besar menghiasi berbagai papan reklame anti-monarki.

Kelompok itu pun diketahui akan melakukan protes besar-besaran di Inggris hingga penobatan Raja Charles III pada 6 Mei 2023 nanti. Papan reklame anti-monarki pun berdiri di berbagai kota seolah-olah mengajak masyarakat untuk menentang pemerintahan mereka.

Kelompok itu menjelaskan, banyak masyarakat Inggris mendukung gerakan republik. Bahkan tahun ini, kelompok itu diperkirakan mendapat keuntungan sebesar seperempat juta Pound Inggris.

“Papan reklame ini adalah dorongan terbaru untuk meningkatkan kesadaran akan masalah serius dengan monarki, dan alternatif demokratis yang ditawarkan. Kami percaya sekarang adalah waktu untuk mulai berbicara tentang alternatif demokrasi untuk monarki, sebuah republik parlementer dengan kepala negara konstitusional. Ini bekerja baik di Irlandia, Islandia, Jerman dan di tempat lain dan akan jauh lebih baik untuk Inggris daripada monarki,” jelas juru bicara Republic, Graham Smith, dikutip dari The Guardian, Jumat (28/10).

Bagi Smith, Raja Charles III juga tidak perlu menghabiskan jutaan uang masyarakat Inggris untuk acara penobatannya.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan Ipsos bulan lalu, popularitas Raja Charles III naik dari 49 persen pada Juni menjadi 61 persen. Mayoritas masyarakat Inggris pun berharap Charles III akan bekerja dengan baik.

Dalam survei itu, sebesar 47 persen suara menilai penghapusan monarki Inggris adalah ide buruk. Sedangkan 22 persen suara memandang monarki lebih baik dihapuskan dari Inggris.

Namun kelompok-kelompok anti-monarki di Inggris yakin opini publik dapat berubah sewaktu-waktu karena berbagai faktor. Bahkan survei menurut National Centre for Social Researcher (NCSR) menunjukkan dukungan monarki Inggris berada di titik terendah sepanjang masa, yaitu hanya 55 persen saja.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]