Papan Reklame hingga Stadion Olahraga Sumber Polusi Cahaya

Lazuardhi Utama, BBC Indonesia
·Bacaan 2 menit

Sebuah eksperiman yang dilakukan setiap pukul 01.30 dini hari selama 10 hari mengungkap sumber utama cahaya buatan yang mencemari langit malam.

Hasil penelitian itu menunjukkan papan reklame lampu sorot, lampu gedung yang menyala, pencahayaan fasad, tempat parkir, dan stadion olahraga – adalah jenis instalasi yang bertanggung jawab atas sebagian besar polusi cahaya.

"Itu informasi yang sangat penting bagi pembuat kebijakan dan aktivis pencemaran (polusi) cahaya," jelas fisikawan Dr Christopher Kyba.

Ia membuat eksperimen dengan meredupkan 14 ribu lampu jalan di kota Tucson, di Arizona, AS selama 10 hari pada jam yang sama.

"Kami menggunakan satelit untuk mengukur sebagian kecil dari total polusi cahaya yang disebabkan oleh lampu jalan," ungkapnya.

Cahaya lampu dianggap telah membawa dampak pada pola tidur dan kesehatan kita.

"Pada larut malam, ketika orang-orang tidur – itu adalah waktu ketika kita bisa menghemat banyak energi," ujar Dr Kyba dari German Research Centre for Geosciences di Potsdam, kepada BBC News.

Eksperimen cahaya dari luar angkasa, yang diterbitkan di jurnal Lighting Research & Technology, menunjukkan bahwa sebagian besar cahaya buatan yang terbuang sia-sia sebenarnya bukan berasal dari lampu jalan, tetapi dari sumber lain.

Papan iklan, lampu sorot, bangunan yang menyala, pencahayaan fasad, tempat parkir, dan stadion olahraga adalah sumber utama polusi cahaya.

"Ini membuatnya makin sulit untuk diatasi, karena banyak kontributornya. Ini artinya, semua orang harus bersama-sama memutuskan lampu apa yang diperlukan untuk menyala, dan seberapa terang," kata dia.

Night-time scene of UK and part of Western Europe (c) SPL
Penelitian sebelumnya menunjukkan bagian paling terang di Inggris semakin terang dari waktu ke waktu

Menyia-nyiakan energi ketika kita tidur

Karena, polusi cahaya bisa berasal dari banyak sumber, sangat sulit untuk memperkirakan jumlah akurat dari energi yang terbuang sia-sia dari lampu yang tidak efisien dan tidak diperlukan.

Namun, International Dark Sky Association memperkirakan 35 persen cahaya lampu terbuang sia-sia karena tidak tepat sasaran. Itu sama saja, di Amerika Serikat saja, sekitar US$3 miliar, atau sekitar Rp44,2 triliun terbuang sia-sia per tahun untuk "membuat langit bercahaya".

"Langit yang bercahaya" ini membuat kebanyakan orang-orang di Bumi tidak pernah melihat langit gelap yang alami. Itu juga mempengaruhi migrasi burung, serangga dan hewan lain, karena mengganggu siklus gelap terang dalam kehidupan mereka.

Pencahayaan yang cerdas

Satu proyek baru-baru ini dengan sebuah gereja yang diterangi lampu sorot di Slovenia - sebuah negara yang mengeluarkan undang-undang untuk membatasi peningkatan tingkat cahaya - mengungkapkan betapa relatif mudahnya pemecahan masalah tersebut.

Perusahaan penerangan menyalakan kembali gereja setelah mengurangi konsumsi daya sebesar 96 persen (dari 1,6 kW menjadi hanya 58 W).

"Banyak orang yang membicarakan krisis iklim namun jarang membicarakan tentang pencemaran (polusi) cahaya," ujar Dr Kyba.

"Tapi itu bagian terpenting. Dan di malam hari, ketika banyak dari kita tertidur, semua listrik [untuk lampu-lampu] itu bisa dialokasikan untuk melakukan hal lain, seperti mengisi ulang energi kendaraan listrik, misanya. Itu adalah hal yang bisa kita lakukan dengan sedikit kecerdasan dan kemauan untuk bertindak,” tutur dia.