Para Perantau Mengejar Rezeki Jadi Pedagang Pempek Palembang (1)

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Palembang - Terik matahari yang cukup menyengat, tak meruntuhkan semangat Joko Purnomo (31). Perantau asal Desa Gabus Kecamatan Gabus Kabupaten Pati Jawa Tengah (Jateng) untuk mengais rezeki.

Dengan gigih dia menjajakan pempek Palembang yang dibawanya menggunakan sepeda motor di Jalan POM XI Palembang Sumatera Selatan (Sumsel).

Jejeran pempek tertata rapi di dalam etalase kaca yang diletakkan di jok belakang sepeda motornya. Meski harganya pempek yang dijajakannya cukup murah hanya Rp 1.000 per buah, Joko kesulitan menghabiskan sisa dagangannya itu.

Pandemi Covid-19 membawa dampak pada semua orang, termasuk Joko. Sebelum pandemi Covid-19, Joko mengaku bisa menjual hingga 700 buah pempek Palembang dalam sehari.

Dengan hasil penjualan itu dia mampu mengirimkan uang sebanyak Rp 2 juta per bulan, untuk menafkahi istri dan anaknya di kampung.

Kini, meski pandemi Covid-19 membuat Joko harus memeras keringat lebih keras lagi, hasilnya tetap kurang memuaskan.

“Sekarang, menjual habis 500 buah pempek saja sangat sulit. Jadi saya hanya bisa mengirim nafkah ke keluarga di Pati sebesar Rp1 juta per bulan,” katanya kepada Liputan6.com, saat ditulis Senin (26/10/2020).

Pendapatannya merosot tajam seiring dengan penurunan minat pelanggan. Sebelum pandemic Covid-19, dia menggelar lapaknya di Pasar Pagi Lemabang Palembang saja.

Sekitar 600 buah pempek bisa diborong konsumen yang mayoritas adalah pelanggannya. Setelah itu, membawa sisa sekitar 100 buah, Joko menggelar lapaknya di Jalan POM XI Palembang dan selalu habis.

“Biasanya pelanggan saya sehabis berbelanja di pasar, langsung memesan pempek Palembang. Sekarang, mereka sudah kurang minat lagi membeli jualan saya,” katanya.

Omsen Menurun Drastis

Jajanan pempek Palembang yang dijajakan oleh pedagang pempek sepeda motor (Liputan6.com / Nefri Inge)
Jajanan pempek Palembang yang dijajakan oleh pedagang pempek sepeda motor (Liputan6.com / Nefri Inge)

Dia ingat betul, bisa mengantongi hingga Rp 200.000 per hari jika penjualannya laris manis. Namun kini, untuk mengantongi untung Rp100.000 saja, sangat sulit.

Menurunnya penjualan, membuat Joko membatasi jumlah pempek menjadi 500 buah per hari yang diambilnya dari seorang produsen.

Selain itu, Joko juga mendatangi lokasi pasar lebih pagi dari biasanya. Meski ada perbaikan, dia sadar bahwa dagangannya tidak selaris sebelum pandemi Covid-19.

Beruntungnya, di tengah kondisi pandemi Covid-19, produsen pempek Palembang mau menerima pempeknya yang tidak laku bila Joko mengembalikannya.

Rezeki Saat Demonstrasi

Saat aksi demo tolak UU Omnibus Law, para pedagang makanan dan minuman termasuk pedagang pempek Palembang dibanjiri orderan (Liputan6.com / Nefri Inge)
Saat aksi demo tolak UU Omnibus Law, para pedagang makanan dan minuman termasuk pedagang pempek Palembang dibanjiri orderan (Liputan6.com / Nefri Inge)

Maraknya demonstrasi menolak pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law di Palembang, tidak disia-siakan Joko.

Di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumsel, Joko juga ikut menggelar lapaknya sembari mendengar orasi kelompok buruh, mahasiswa dan berbagai pihak yang menolak UU Cilaka, sebutan bagi RUU Omnibus Law dari para demonstran.

Strategi itu berbuah manis. Pempek dagangannya laris terjual. Bukan hanya oleh para demonstran, tapi juga seringkali diborong aparat kepolisian yang berjaga di sekitar lokasi aksi.

“Saya mendekati rombongan demonstran, jualan saya langsung laku keras dalam waktu cepat. Biasanya harus nunggu seharian untuk menghabiskan 500 pc pempek. Tapi saat demo, hanya setengah hari saja sudah laku keras,” ucapnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini :