Paralimpiade Tokyo 2020: Menpora Tak Mau Bebani Kontingen Indonesia dengan Target Terlalu Ambisius

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali, optimistis kontingen Indonesia dapat meraih hasil apik pada Paralimpiade Tokyo 2020, alias lebih baik dibanding Paralimpiade Rio lima tahun lalu. Namun, Menpora tak mau memberikan beban terlalu ambisius.

Keyakinan Amali merujuk pada persiapan panjang yang dilakukan skuad Merah Putih selama menjalani pemusatan pelatihan nasional (pelatnas) di Solo, Jawa Tengah.

Selain untuk menghadapi Paralimpiade Tokyo 2020, atlet Indonesia yang tampil ini juga dipersiapkan untuk mengkuti ASEAN Para Games 2019 yang batal bergulir.

"Sehingga saya ada rasa optimisme karena mereka sudah lama menjalani pemusatan latihan. Jadi semoga mereka ke Tokyo bisa bagus dan sebagaimana yang kita harapkan," ujar Amali dalam laman resmi Kemenpora.

Indonesia mengirimkan 23 atlet untuk mengikuti tujuh cabang olahraga yakni, para-badminton, para-atletik, para-renang, para-tenis meja, para-menembak, para-powerlifting, dan para-balap sepeda.

Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibanding ketika turun pada Paralimpiade sebelumnya di Rio de Janeiro, Brazil 2016 yakni sembilan orang

Menurut Amali ada banyak kemajuan dan beberapa pemain dapat diunggulkan untuk meraih medali pada Paralimpiade Tokyo 2020. "Saya kira kalau saya melihat dengan kondisi persiapan mereka yang cukup baik dan mereka tetap berlatih," katanya.

"Saya tiga kali datang ke Solo untuk melihat mereka, memberi mereka semangat dan karena saya lihat bagaimana seriusnya mereka berlatih, maka bisa ada perbaikan dari perolehan kita di Rio De Jeneiro tahun 2016,” ujar Menpora.

Alasan Tak Patok Target Ambisius

Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali. (Kemenpora)
Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali. (Kemenpora)

Meski demikian, Amali tak ingin menaruh target yang terlalu ambisius dengan jumlah medali tertentu. Menurutnya, tindakan itu dapat menjadi beban bagi para atlet yang akan bertanding.

“Saya tidak mau membebani atlet dengan target-target yang dalam itu. Mereka kita membuat ukuran-ukuran sesuai dengan apa yang kami pantau,” ujarnya.

Amali juga menyebutkan bahwa bertanding pada masa pandemi seperti saat ini sangat tidak mudah. Di samping harus menyiapkan kemampuan fisik maupun teknis dan strategi, mereka harus menjaga protokol kesehatan.

"Sama seperti Olimpiade Tokyo, suasananya juga mirip-mirip, tekanan-tekanan itu akan lebih berat dan lebih besar ketimbang multievent lain," kata Amali.

Tampil Lepas

Orang-orang mengambil foto di luar saat kembang api menerangi langit di atas Stadion Olimpiade selama upacara pembukaan Paralimpiade Tokyo 2020 di Tokyo pada 24 Agustus 2021. (AFP/Kazuhiro Nogi)
Orang-orang mengambil foto di luar saat kembang api menerangi langit di atas Stadion Olimpiade selama upacara pembukaan Paralimpiade Tokyo 2020 di Tokyo pada 24 Agustus 2021. (AFP/Kazuhiro Nogi)

Menpora Amali berpesan kepada para atlet untuk bertanding dengan baik, bermain lepas, tanpa beban dan menjaga protokol kesehatan.

“Saya pesan jaga kesehatan, prokesnya harus tetap dan juga main lepas saja karena biasanya tekanan di Paralimpiade itu lebih daripada tekanan di multievent lainnya walaupun itu di tingkat internasional," katanya.

"Pada saat Olimpiade yang lalu, banyak yang diunggulkan ya ternyata dia tidak lolos sampai ke final. Bahkan yang tidak diunggulkan bisa menjadi juara."

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel