Paralimpiade Tokyo 2020 Telah Usai, Segenap Emigran Rayakan Prestasi Disabilitas di Panggung Dunia

·Bacaan 7 menit

Liputan6.com, Jakarta Setelah berkompetisi dengan bangga, Tim Paralimpiade menunjukkan kekuatan inklusi bagi para emigran penyandang disabilitas dan disorot Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau Komisariat Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR).

Dilansir dari laman resmi UNHCR, saat Olimpiade Tokyo berakhir pada hari Minggu, segenap emigran Paralimpiade merayakan prestasi mereka di panggung dunia, yakin bahwa mereka telah mengirim pesan harapan dan persatuan kepada 82,4 juta orang terlantar di dunia dan 12 juta di antaranya penyandang disabilitas.

“Seluruh acara tersebut merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Tim emigran bukan sembarang tim, melainkan keluarga yang berusaha menyatukan semua orang diseluruh dunia tanpa kecuali,” kata Alia Issa, salah satu atlet dari cabor melempar.

Tim paralimpiade emigran mungkin sering mendengar kalau mereka adalah tim olahraga paling berani. Sebab selain mereka yang biasanya hanya beranggotakan enam orang dan harus mengatasi lebih banyak rintangan daripada kebanyakan pesaing mereka hanya untuk bisa bertanding di Olimpiade. Juga termasuk pengalaman traumatis melarikan diri dari perang atau penganiayaan dan menyesuaikan diri dengan hidup dalam budaya baru.

Mereka adalah Abbas Karimi, lahir tanpa lengan, melaju ke final nomor S5 50 meter gaya kupu-kupu dengan catatan waktu 36,36 detik. Alia, yang alami kerusakan otak ketika ia demam tinggi saat masih kecil, mencapai 16,33 meter dalam melempar.

Kemudian ada Shahrad Nasajpour yang mengalahkan rekor terbaiknya dari lima tahun lalu di Rio. Serta Anas Al Khalifa, yang melarikan diri dari pertempuran di Suriah dan sekarang tinggal di Jerman, menempati posisi ketujuh di kelas kayak tunggal KL1. Ia menunjukkan penampilan yang kuat setelah satu tahun menjalani pelatihan yang serius. Anas memiliki keterbatasan menggunakan kakinya setelah jatuh dari gedung lantai dua saat memasang panel surya.

“Fisioterapis saya benar-benar mendorong saya dengan keras dan menunjukkan kepada saya bahwa olahraga sangat penting untuk proses rehabilitasi saya karena itu memberi Anda harapan. Itu benar-benar mengangkat Anda ketika Anda berada di titik terendah. Itu adalah cara membawa saya keluar dari kegelapan yang saya rasakan,” kata Anas, dikutip dari UNHCR.

Meningkatkan kepercayaan diri

Kemudian dua orang lainnya yaitu Parfait Hakizimana, seorang emigran Burundi ang mendirikan klub taekwondo di Kamp di Mahama. Sayangnya ia cedera saat kalah di putaran pertama pertandingan sebelumnya, namun kehadirannya di Tim membantu para emigran di seluruh dunia melihat bahwa impian mereka juga menjadi kenyataan.

Terakhir yaitu seorang perenang, Ibrahim Al Hussein, yang kehilangan kaki kanan bawahnya dalam ledakan bom selama pertempuran di Suriah. Disebut sebagai kapten tidak resmi oleh rekan satu timnya, Ibrahim sering terlihat melambaikan tangan dan tersenyum kepada orang-orang di jalan saat naik bus menuju kolam renang. Ia berterima kasih kepada penyelenggara Jepang karena mengadakan Olimpiade pada waktu yang sangat menantang selama pandemi.

“Sejak kami berangkat dari Paralympic Village ke tempat-tempat di sini dan melihat semua orang lokal melambai kepada kami, itu membuat kami merasa hangat dan membuat saya merasa sangat bahagia,” katanya, dikutip dari UNHCR.

Mereka mengatakan pengalaman bertanding di Tokyo meningkatkan kepercayaan diri mereka dan berambisi untuk bisa bertanding lagi di Paris 2024, tiga tahun lagi.

Menurut UNHCR, kehadiran mereka di Paralimpiade membantu menarik perhatian pada tantangan yang dihadapi orang-orang terlantar yang hidup dengan disabilitas, yang berisiko lebih tinggi mengalami kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan. Mereka sering kekurangan akses yang sama ke layanan dasar, pekerjaan, pendidikan dan kegiatan olahraga.

Bahkan jika mereka tidak memenangkan medali apa pun, ketekunan tim patut diapresiasi, sehingga tak heran jika mereka menerima dorongan dukungan dari para penggemar di Jepang dan di seluruh dunia.

10.000 pesawat kertas

Untuk memberi mereka penghargaan, anak-anak sekolahan di Tokyo memberi mereka lebih dari 10.000 pesawat kertas, yang memiliki arti terkait dengan membawa mimpi. Selain mereka, bintang rock Jepang MIYAVI, Goodwill Ambassador-nya UNHCR, the UN Refugee Agency, merilis video musik dengan lagu baru, “I Swear, ” untuk gambaran pelatihan Paralimpiade.

Kehadiran mereka di Olimpiade adalah kemenangan bagi inklusi, kata Ricardo Pla Cordero, petugas perlindungan untuk inklusi disabilitas di UNHCR, yang bekerja dengan mitra untuk memanfaatkan kekuatan olahraga untuk mengubah kehidupan para emigran.

“Berada di sana, bersaing, jauh lebih penting daripada menang atau tidak memenangkan medali. Memiliki hak untuk berada di Tokyo dan bersaing dengan yang lain merupakan pencapaian tambahan dan penting menuju pengakuan penuh para pengungsi penyandang disabilitas sebagai manusia, atlet, dan anggota masyarakat yang berharga,” kata Pla Cordero.

Ada dua tim emigran yang melakukan debut mereka di Olimpiade Rio dan Paralimpiade pada tahun 2016 dan mereka berkembang menjadi 35 anggota gabungan di Tokyo. Mereka awalnya berasal dari 12 negara, termasuk Suriah, Iran, Sudan Selatan dan Afghanistan. Adapun untuk tahun ini, mereka memercayakan pertandingan Paralimpiade kepada enam orang dari tim emigran, menyusul masuknya dua atlet emigran yang memiliki pengalaman bertanding di Olimpiade Rio 2016.

Di bawah bendera tim atlet paralimpik independen dan sebagai tim olimpiade emigran yang saat di Rio baru beranggotakan 10 orang, namun kini hampir tiga kali lipatnya. Tim yang dibentuk dan didukung oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Komite Paralimpik Internasional (IPC) dalam kemitraan dengan UNHCR ini, memberikan atlet hak-haknya. Oleh karena itu mereka tidak bisa menjadi perwakilan negara asalnya.

Komisaris Tinggi PBB untuk Emigran, Filippo Grandi mengucapkan selamat kepada kedua tim atas penampilan luar biasa mereka. “Ketekunan dan bakat mereka benar-benar menjadi inspirasi bagi kita semua,” katanya, masih dikutip dari UNHCR.

“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada IOC dan IPC karena telah mempercayai para emigran dan dan memberikan contoh bagi orang lain. Melalui upaya mereka, kami telah melihat secara langsung kekuatan olahraga yang luar biasa dalam mendorong dunia yang lebih inklusif dan setara,” tambah Grandi. Mereka juga mengatakan akan sangat menantikan pertandingan para atlet penyandang disabilitas.

“Kami akan melanjutkan pekerjaan kami untuk menciptakan dunia di mana semua orang terlantar, termasuk penyandang disabilitas, dapat mengakses dan berpartisipasi secara setara dalam olahraga,” kata Deanna Bitetti, petugas komunikasi senior yang bekerja di Tokyo, dikutip dari UNHCR.

Baik Olimpiade maupun Paralimpiade memberikan kesempatan bagi negara tuan rumah Jepang untuk mempromosikan kesadaran yang lebih besar tentang orang-orang terlantar. Bangsal Bunkyo Tokyo, yang berfungsi sebagai kota tuan rumah Tim Paralimpiade emigran, menyelenggarakan lokakarya untuk penduduk tentang krisis pengungsi global dan mengadakan sesi online dengan perwakilan tim Ileana Rodriguez, mantan emigran dari Kuba dan sekarang menjadi warga negara Amerika.

Parfait juga muncul sebagai avatar gim video dalam gim yang dirilis oleh JPGames, pengembang di balik Pegasus Dream Tour, gim video resmi Paralimpiade. Game ini juga menampilkan istri dan anak Parfait sebagai penonton.

Para atlet emigran juga menjadi karakter utama dalam sebuah buku dengan ilustrasi seperti manga yang diterbitkan oleh Kadokawa Corp Jepang. Buku yang ditujuan untuk pemuda ini menceritakan kisah-kisah kesulitan yang diatasi oleh tujuh atlet yang berkompetisi di Rio, termasuk perenang Yusra Mardini, dengan peta rute mereka ambil saat melarikan diri dari tanah air mereka. “Jika Anda membaca cerita mereka, Anda bisa mendapatkan keberanian dan harapan,” tulisan yang tercantum di sampul buku tersebut.

Dukungan juga datang dari tempat lain. Dari Kepulauan Cayman, sekelompok wanita mengirim pin buatan tangan untuk anggota kedua tim yang menggambarkan logo UNHCR yang dikombinasikan dengan simbol Olimpiade atau Paralimpiade.

Sebuah kartu dari para wanita, yang dipimpin oleh seniman Deborah Kern dan didukung oleh Rachel Klein, mengatakan bahwa mereka telah mengetahui bahwa tim emigran tidak memiliki pin khusus untuk dipakai, seperti yang digunakan oleh banyak tim nasional. “Kami ingin memastikan Anda semua memiliki pin khusus Anda sendiri. Terima kasih telah menginspirasi kami,” tulis mereka.

Sanda Aldas, seorang emigran atlet Judo asal Suriah mengaku menitikkan air matanya ketika ia memasuki stadion selama Upacara Pembukaan karena ia mengemban sebagai perwakilan emigran dimana-mana serta karena orang tuanya sangat menginginkannya sehingga ia bisa bersaing di Olimpiade.

“Selalu ada harapan dan jangan berhenti bermimpi. Jangan dengarkan mereka yang memberi tahu Anda bahwa Anda tidak dapat mencapai tujuan Anda, bekerja keras saja. Itu tidak akan mudah tetapi percaya pada diri sendiri dapat membuat semua impian Anda menjadi kenyataan, tidak hanya dalam olahraga tetapi dalam kehidupan secara umum,” kata Sanda kepada sesama emigran.

Infografis Hary Susanto/ Leani Ratri Oktila Raih Medali Emas Kedua Paralimpiade Tokyo 2020.

Infografis Hary Susanto/ Leani Ratri Oktila Raih Medali Emas Kedua Paralimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Hary Susanto/ Leani Ratri Oktila Raih Medali Emas Kedua Paralimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel