Park Ji-sung, Momen Patah Hati di Manchester United, dan Pesta yang Terasa Hambar

Bola.com, Manchester - Park Ji-sung masih menjadi pemain Korea Selatan yang paling sukses di Premier League. Dia memperkuat Manchester United selama tujuh musim dan meraih berbagai gelar bergengsi. 

Selama tujuh musim tersebut, Park Ji-sung memiliki berbagai kenangan manis. Tapi, tentu saja tak semua memorinya bersama Setan Merah terasa manis. 

Park mengaku ada satu kenang paling menyedihkan di Manchester United yang sangat sulit dilupakannya. Pemain berjuluk Tiga Paru-paru tersebut mengaku masih merasa getir jika mengingat keputusan Sir Alex Ferguson yang tak menurunkannya pada final Liga Champions 2008. Park bahkan menyebut itu adalah momen paling menyedihkan sepanjang kariernya. 

Saat itu, Park absen sepanjang fase grup Liga Champions 2007-2008 karena mengalami cedera lutut. Tetapi, ia langsung moncer setelah pulih dari cederanya dan kembali bermain. 

Mantan gelandang Timnas Korsel itu tampil penuh dalam dua leg di babak perempat final dan semifinal. Saat itu, Setan Merah mengalahkan AS Roma dan Barcelona. 

Namun, menjelang partai final, Park mendapat kabar buruk. Nama Park tidak masuk dalam daftar 18 pemain yang akan bermain melawan Chelsea pada final di Moskow, Rusia. 

Park Ji-sung mengaku benar-benar patah hati atas keputusan itu. Namun, dia mengaku bisa memahami keputusan Ferguson tersebut karena yang terpenting adalah MU menang di Stadion Luzniki tersebut.  

 

Dihibur Rekan-rekan Setim

Park Ji-sung bergabung dengan Manchester United pada 2006. Sebelumnya, gelandang asal Korea Selatan ini bermain untuk di Liga Belanda untuk klub PSV Eindhoven. (AFP/Paul Ellis)

"Kami banyak memenangi gelar Premier League dan mencapai banyak final. Dan Moskow menjadi momen paling sedih bagi saya, ketika saya mendapati tak masuk skuad untuk final Liga Champions melawan Chelsea," kata Park kepada Utd Unscripted, seperti dilansir Express, Minggu (17/5/2020). 

"Setiap orang luar biasa. Tapi, terutama saya masih ingat Patrice (Evra) dan Carlos (Tevez), mereka benar-benar menghibur saya." 

"Saya sedih tentu saja. Tapi, mereka memeluk saya. Kemudian saya bisa membaca di wajah mereka, bagaimana mereka merasakan kekecewaan untuk saya dan mereka juga sedih," imbuh Park. 

Park sangat menghagai simpati yang diberikan para pemain Manchester United saat itu. Namun, itu tak mengubah fakta dirinya tetap tidak bisa tampil di final. 

"Saya pernah kecewa, kemudian ketika pertandingan mulai, saya hanya bisa berdoa untuk kemenangan kami. Seperti itu situasinya. Atmosfer di ruang ganti seperti itu. Setelah segalanya, kami memenangi Liga Champions, jadi tak seorang pun bisa menyalahkan orang lain," kenang Park.  

 

Perasaan Campur Aduk

Park Ji Sung juga tercatat sebagai pemain Asia pertama yang mengangkat trofi Liga Champions. Park memainkan peran penting ketika Manchester United melawan Barcelona pada laga semi final Liga Champions 2008. (AFP/Paul Ellis)

Manchester United menjuarai Liga Champions melalui adu penalti. Kiper MU, Edwin van der Sar, berhasil menepis tendangan Nicolas Anelka dan segenap pendukung Setan Merah langsung berselebrasi dengan liar. 

Skuad Manchester United kemudian menggelar pesta setelah penyerahan trofi. Tapi, Park mengaku sulit menikmatinya. Pesta itu terasa hambar. 

"Pada pesta setelah pertandingan, saya hanya separuh menikmatinya, dan separuh tidak. Rasanya aneh. Saya tak bisa memahami di kepala bahwa kami juara Eropa, tapi saya tak benar-benar merasakannya di hati, jadi perasaannya campur aduk," kata Park. 

"Saya sangat senang kami sukses dan menjuarai Liga Champions, yang sangat kami inginkan. Saya tahu bukan hanya saya, tapi ada beberapa pemain lain yang juga tidak dimainkan." 

"Ada 25 pemain atau lebih yang ingin masuk skuad dan hanya 18 yang bisa. Jado, saya tahu bukan hanya saya. Itu tentang tim," imbuh Park Ji-sung. 

Sumber: Express

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini