Parni Hadi: Tidak Cermat Dosa Terbesar Wartawan

Jakarta, 30/3 (ANTARA) - Tokoh pers nasional penggagas jurnalisme prophet atau jurnalisme kenabian Parni Hadi menyatakan ketidakcermatan adalah hal fatal yang sering dilakukan oleh wartawan.

"Ketidakcermatan adalah dosa terbesar wartawan kita," tegas Parni Hadi pada acara bedah buku: "Jangan Panggil Septi Monyet" di kantor LKBN ANTARA di Jakarta, Jumat.

Ketidakcermatan tersebut, menurut Parni yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Umum LKBN ANTARA, kemungkinan besar disebabkan oleh faktor ketergesaan dalam membuat berita.

"Seringnya, wartawan terburu-buru dalam membuat berita sehingga sering terjadi kesalahan antara lain salah dalam penggunaan tanda baca dan ejaan," kata Parni yang juga mantan direktur utama Radio Republik Indonesia (RRI) itu.

Selain keticakcermatan, kesalahan fatal lain yang kerap dilakukan oleh wartawan, menurut Parni adalah ketidakringkasan.

"Wartawan sering mengulang kata, bahasa jurnalistik seharusnya ringkas, lugas dan zero mistakes," kata Parni.

Parni Hadi telah menjadi wartawan selama lebih dari 40 tahun. Dalam rentang waktu tersebut, dia pernah menduduki jabatan sebagai mantan Direktur utama RRI, pimpinan utama LKBN ANTARA dan pemimpin redaksi Republika.

Dalam acara bedah buku "Jangan Panggil Septi Monyet" tersebut dia memberikan beberapa catatan kritis mengenai bagaimana penulisan sebuah buku hasil kumpulan karya tulis jurnalistik disusun.

"Seharusnya, buku ini disusun secara tematik, dan ditulis dengan kedalaman yang kritis agar tidak terkesan seperti tulisan berita yang dipanjang-panjangkan, tapi ini bagus, awal yang baik untuk LKBN ANTARA menjadi lebih produktif," kata Parni yang juga aktif dalam gerakan Pramuka tersebut.

"Jangan Panggil Septi Monyet" adalah sebuah buku kumpulan karya jurnalistik wartawan Kantor Berita ANTARA yang dikumpulkan dari periode 2007 hingga 2011. Buku terdiri dari 46 tulisan inspiratif yang mengangkat kisah orang-orang yang termarginalkan. (rr)



Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.