Partai Demokrat Sambut Gembira Putusan Pengadilan Tipikor

Jakarta (ANTARA) - Partai Demokrat menyambut gembira putusan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang memastikan dana suap kasus Wisma Atlet untuk SEA Games yang diterima Nazaruddin tidak terkait dengan kongres Partai tersebut di Bandung Mei 2010.

"Kami merasa gembira dan lega karena dalam amar keputusan majelis hakim di Pengadilan Tipikor menegaskan dana suap pada proyek Wisma Atlet tidak terkait dengan kongres Partai Demokrat," kata Ketua DPP Partai Demokrat Gede Pasek Suardika ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat.

Gede Pasek menjelaskan, melalui amar putusan yang dibacakan majelis hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) maka tudingan miring yang selama ini dialamatkan kepada Partai Demokrat terbukti tidak benar.

Melalui amar putusan majelis hakim di Pengadilan Negeri Tipikor ini maka isu miring yang merusak citra Partai Demokrat selama ini tidak terbukti.

"Ini menjadi momentum bagi Partai Demokrat untuk mengembalikan citranya dan melepaskan diri dari jeratan isu negatif yang ternyata tidak benar," katanya.

Anggota Komisi II DPR RI ini menambahkan, selama ini pimpinan Partai Demokrat sudah memberikan klarifikasi bahwa kasus suap proyek pembangunan Wisma Atlet untuk SEA Games tidak ada kaitannya dengan kongres Partai Demokrat.

Menurut dia, kongres Partai Demokrat berlangsung di Bandung pada Mei 2010, sedangkan kasus suap proyek pembangunan Wisma Atlet untuk SEA Games terjadi pada Februari 2011.

"Kami sudah memberikan klarifikasi, tapi Nazaruddin terus menghembuskan isu negatif, sehingga terjadi perang isu. Namun, melalui amar putusan majelis hakim di Pengadilan Tipikor, isu negatif itu terbukti tidak benar," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Pasek juga mengimbau semua pihak baik kader Partai Demokrat maupun masyarakat umum untuk menghilangkan persepsi negatif terhadap Partai Demokrat dan kembali memberikan kepercayaan.

Ditanya soal vonis empat tahun 10 bulan yang dijatuhkan majelis hakim di Pengadilan Tipikor terhadap terpidana kaus suap Wisma Atlet, Muhammad Nazaruddin, menurut Pasek hal itu adalah relatif.

"Lamanya vonis itu relatif, bisa dilihat ringan atau berat. Setelah mendengar amar putusan itu, Nazaruddin malah tersenyum-senyum," katanya.

Sementara itu, majelis hakim Pengadilan Tipikor memvonis hukuman empat tahun 10 bulan penjara kepada Muhammad Nazaruddin.

Mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat terbukti melakukan tindak pidana korupsi dengan menerima suap berupa cek senilai Rp4,6 miliar dari PT Duta Graha Indah (DGI).

Selain hukuman penjara, Nazaruddin juga diharuskan membayar denda sebesar Rp200 juta yang dapat diganti dengan empat bulan kurungan.

Putusan tersebut dibacakan secara bergantian oleh majelis hakim Tipikor yang terdiri dari Dharmawati Ningsih (ketua), Herdi Agustein, Marsudin Nainggolan, Sofialdi, dan Ugo di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat.

Putusan itu lebih ringan dari tuntutan jaksa KPK yang menuntut Muhammad Nazaruddin dihukum tujuh tahun penjara ditambah denda Rp300 juta subsider enam bulan kurungan. (rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.