Pasang PLTS Atap di 5.000 SPBU, Pertamina Hemat Rp 4 Miliar per Tahun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) target pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di 5.000 SPBU. Itu berpotensi menghemat sebesar total Rp 4 miliar dalam setahun untuk keseluruhan SPBU tersebut yang dihasilkan dari penghematan biaya tagihan listrik.

Proses pemasangan PLTS SPBU tersebut akan dilakukan oleh Pertamina New Renewable Energy (NRE) sebagai subholding perseroan.

CEO Pertamina NRE Dannif Danusaputro mengatakan, transisi energi yang sedang dilakukan perseroan tampak pada wajah SPBU Pertamina yang baru. Green Energy Station (GES) selaku konsep baru SPBU Pertamina menyediakan layanan secara terintegrasi dan lebih ramah lingkungan kepada konsumen, termasuk penggunaan PLTS Atap untuk memenuhi kebutuhan listrik.

"Pemasangan PLTS di 5.000 SPBU diperkirakan berpotensi menurunkan emisi sebesar 34 ribu ton CO2 per tahun," terang Dannif, Selasa (14/9/2021).

Tidak hanya dekarbonisasi, penggunaan PLTS Atap berpotensi memberikan keuntungan ekonomi bagi pemilik SPBU sampai dengan Rp 1 juta per bulan yang berasal dari penghematan biaya tagihan listrik.

Apabila 5.000 SPBU memasang PLTS Atap dengan kapasitas 5 KWp, maka total potensi penghematan yang dihasilkan sekitar Rp 4 miliar dalam setahun.

PLTS Atap yang dipasang di SPBU terkoneksi dengan sistem on grid, dimana PLTS terintegrasi dengan jaringan penyedia listrik sebagai tempat penyimpanan energi yang dihasilkan dari panas matahari.

Hal ini untuk meningkatkan fleksibilitas dan berbagi peran sebagai cadangan pasokan listrik. Dibandingkan dengan sistem off grid, PLTS sistem on grid menggunakan teknologi yang lebih sederhana sehingga biaya pemasangan juga lebih kompetitif.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Biaya Investasi PLTS Turun

Teknisi mengecek panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap ini bertujuan menghemat pemakaian listrik konvensional sekaligus menjadi energi cadangan saat listrik padam. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Teknisi mengecek panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap ini bertujuan menghemat pemakaian listrik konvensional sekaligus menjadi energi cadangan saat listrik padam. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Hasil riset yang dilakukan oleh BloombergNEF menunjukkan, pada rentang waktu 2010-2020, biaya investasi PLTS turun drastis hingga 90 persen. Dengan semakin berkembangnya teknologi serta meningkatnya skala ekonomi, diproyeksikan biaya pemasangan PLTS akan menjadi kompetitif dibandingkan dengan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil.

Bukan hanya itu, pengoperasian dan perawatan PLTS Atap relatif mudah. Untuk perawatan, panel surya hanya perlu dibersihkan minimal setiap 6 bulan sekali agar terhindar dari kotoran dan jamur. Aspek HSSE menjadi prioritas utama dalam bisnis Pertamina sehingga proses konstruksi PLTS dipastikan aman.

"Keamanan dan kenyamanan konsumen sangat kami perhatikan. HSSE Golden Rules sudah menjadi budaya di Pertamina, dimana aspek keamanan dan keselamatan tidak akan lepas dari setiap aktivitas operasi kami, sehingga konsumen tidak perlu khawatir," ujar Dannif.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel