Pasar Asia mundur dari rekor tertinggi karena aksi ambil untung

Kelik Dewanto
·Bacaan 3 menit

Saham-saham Asia tergelincir dari rekor tertinggi pada Jumat, karena investor mengambil untung setelah reli baru-baru ini yang didorong oleh harapan stimulus ekonomi AS oleh Presiden Joe Biden yang baru dilantik.

Sentimen juga terpukul oleh kekhawatiran pembatasan virus corona baru di China yang melaporkan 103 kasus COVID-19 pada Jumat.

Indeks berjangka menunjukkan awal yang suram untuk pasar saham Eropa dan AS. Indeks berjangka Eurostoxx 50 turun 0,4 persen, sementara indeks berjangka DAX Jerman tergelincir 0,3 persen dan FTSE London turun 0,2 turun. Indeks berjangka E-Mini berjangka S&P 500 tersandung 0,25 persen.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik yang lebih luas di luar Jepang, memperpanjang kerugian dalam perdagangan sore menjadi terakhir 0,6 persen pada 720,17 poin setelah kenaikan tiga sesi berturut-turut.

Indeks MSCI melonjak 8,8 persen sejauh Januari ini, setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa di 727,31 poin pada Kamis (21/1/2021).

Baca juga: Saham Asia akan menguat setelah Wall Street capai rekor tertinggi

Analis memperkirakan kerugian Jumat hanya sebentar ketika mereka memprediksi kenaikan kuat dalam pertumbuhan global yang didukung oleh rekor suku bunga rendah di seluruh dunia.

“Tahun 2021 dimulai dengan ekspektasi pembukaan kembali (penguncian) di paruh kedua, saat tema makro utama dan perkiraan konsensus memproyeksikan pemulihan berbentuk V dalam pertumbuhan global dan laba perusahaan," kata Paul O'Connor yang mengepalai tim multi-aset pada Janus Henderson berbasis di Inggris.

“Meskipun banyak negara dan sektor akan menanggung luka guncangan COVID-19 untuk tahun-tahun mendatang, 2021 diperkirakan akan melihat beberapa langkah menentukan menuju pemulihan ketika pembatasan-pembatasan pada kemudahan kegiatan ekonomi berkurang seiring berjalannya tahun, membuka kunci belanja konsumen yang terpendam,” tambah O'Connor, dikutip dari Reuters.

Indeks MSCI Asia di luar Jepang telah melonjak 3,7 persen sepanjang minggu ini, mencerminkan kelegaan atas transisi kekuasaan yang teratur di Amerika Serikat dan ekspektasi yang kuat bahwa stimulus AS akan memberikan dukungan lanjutan untuk aset-aset global.

Partai Republik di Kongres AS telah mengindikasikan bahwa mereka bersedia untuk bekerja dengan Presiden Joe Biden mengenai prioritas utama pemerintahannya, rencana stimulus fiskal AS senilai 1,9 triliun dolar, meskipun beberapa menentang besarannya.

Demokrat mengambil kendali Senat AS pada Rabu (20/1/2021), meskipun mereka masih membutuhkan dukungan Republik untuk meloloskan program tersebut.

Indeks acuan Australia turun 0,3 persen sementara Nikkei Jepang turun 0,4 persen.

Saham-saham China mulai melemah dengan indeks saham unggulan CSI300 turun 0,3 persen dan Hang Seng Hong Kong jatuh 1,4 persen.

Rencana perjalanan berada dalam ketidakpastian bagi puluhan juta orang di kota-kota utara China yang telah dikunci di tengah kekhawatiran bahwa infeksi virus corona yang tidak terdeteksi dapat menyebar dengan cepat selama liburan Tahun Baru Imlek, yang hanya beberapa minggu lagi.

Semalam di Wall Street, S&P 500 dan Komposit Nasdaq ditutup pada rekor tertinggi.

Baca juga: Wall Street bervariasi, S&P dan Nasdaq ditutup di rekor tertinggi

Di pasar mata uang, dolar AS berhenti setelah tiga hari berturut-turut mengalami kerugian, meskipun sejauh ini masih turun 0,7 persen minggu ini. Terhadap yen Jepang, dolar telah tergelincir 0,28 persen sepanjang minggu ini.

Dolar Australia yang sensitif terhadap komoditas naik 0,6 persen minggu ini, sementara euro telah naik 0,8 persen dalam periode tersebut.

Penurunan greenback baru-baru ini dipicu oleh investor yang menanamkan uangnya ke mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi, karena optimisme tentang pemulihan ekonomi yang cepat dipimpin stimulus AS yang besar.

Mata uang kripto Bitcoin yang populer jatuh ke level terendah hampir tiga minggu pada Jumat, karena aksi ambil untung dan kekhawatiran tentang peraturan tambahan.

Bitcoin berada di jalur untuk kinerja mingguan terburuknya sejak awal 2020, sejauh ini jatuh 12,3 persen.

Di komoditas, harga minyak terbebani oleh kekhawatiran bahwa pembatasan pandemi baru di China akan mengekang permintaan bahan bakar di importir minyak terbesar dunia itu.

Brent dan minyak mentah AS masing-masing lebih rendah 73 sen menjadi 55,37 dolar AS dan 52,40 dolar AS per barel.

Harga spot emas turun 0,6 persen pada 1.859,4 dolar AS per ounce.

Baca juga: Emas turun karena ambil untung, harapan stimulus batasi kerugian