Pasar Barang Antik Jalan Surabaya Sepi Pembeli

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah pedagang di pasar barang antik dan koper jalan Surabaya Jakarta Pusat mengeluhkan semakin sepinya pembeli dibanding beberapa tahun yang lalu .

"Sekarang pembeli barang antik sepi tidak seperti tahun 90-an," kata Ketua asosiasi pedagang Pasar Antik Jalan Surabaya, Mumu Hidayat, di Jakarta, Minggu.

Sejak krisis ekonomi sekitar tahun 1997 penjualan barang-barang antik turun mencapai 40 persen dibanding sekarang.

Ia mengatakan meskipun kawasan Pasar Barang Antik menjadi salah satu tujuan wisatawan namun sekarang sudah sepi pembeli.

Barang antik seperti yang dulu banyak dicari wisatawan mancanegara seperti alat kompas, teropong, lampu-lampu antik sudah jarang dicari orang sehingga kini pedagang beralih ke barang-barang umum yang masih dicari oleh wisatawan, kata dia.

Ia mengaku kunjungan wisatawan mancanegara ke pasar barang antik itu turun 10 persen dari beberapa tahun lalu.

"Dulu ada banyak bus berisi wisatawan mancanegara, namun sekarang hanya bus travel, itu juga jarang-jarang," kata dia.

Ia mengatakan dalam sehari barang antik yang dipajang belum tentu dapat terjual, sehingga berpengaruh pada berkurangnya pendapatan.

Mumu berharap pemerintah ikut lebih mengenalkan Pasar Antik Jalan Surabaya lagi sehingga pengunjung dapat meningkat lagi.

Di kawasan jalan Surabaya itu terdapat sebanyak 184 kios yang berdiri sejak 1978.

Barang-barang yang dijual tidak hanya dari Indonesia, namun juga dari Eropa dan Asia, kata dia.

Pedagang yang telah berjualan dari tahun 1970 itu menjual barang antik dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah tergantung kualitas, bahan, serta umur dari barang.

Sementara itu pedagang barang antik yang lain, Ntis mengatakan tidak dapat memprediksi penjualan barang antik miliknya.

"Saya tidak dapat memprediksi penurunan penjualan, yang jelas penurunannya drastis dibanding beberapa tahun lalu," kata dia.

Ia mengatakan jika dulu ia dapat mengirim barang hingga menggunakan kontainer berdasarkan pesanan, maka sekarang hanya mengandalkan wisatawan yang datang saja.

"Sekarang pembeli hanya membeli barang antik sedikit, itu juga untuk souvenir saat pulang ke negara asal," Kata Ntis yang telah berjualan sejak 1985 itu.

Menurut dia, saat ini lebih mengandalkan transaksi antar pedagang, jika pedagang dari daerah membutuhkan barang, maka dia akan mengirimkannya untuk dijual lagi kepada konsumen.

Ia berharap penjualan barang antik dapat meningkat lagi sehingga tidak harus menunggu satu minggu untuk menjual satu barang koleksinya kepada wisatawan.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.