Pasar ketat di paruh pertama dapat angkat harga minyak jadi 65 dolar

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 1 menit

Harga minyak bisa naik menjadi 65 dolar AS per barel pada Juli di tengah pasar minyak yang ketat dan rebound lambat dalam permintaan, kata Goldman Sachs.

Bank mengatakan dalam sebuah catatan pada Minggu (31/1/2021) data menunjukkan defisit 2,3 juta barel per hari (bph) pada kuartal keempat 2020 didorong oleh permintaan yang lebih tinggi dan pasokan yang lebih rendah dari produsen di luar kelompok OPEC+.

Goldman Sachs memperkirakan defisit 900.000 barel per hari pada paruh pertama 2021, tingkat yang lebih tinggi dari prediksi sebelumnya sebesar 500.000 barel per hari.

Baca juga: Survei: Produksi minyak OPEC Januari naik untuk bulan ketujuh

Hal ini dapat membantu mendorong patokan minyak mentah Brent menjadi 65 dolar AS per barel pada Juli, dengan lebih sedikit investasi industri dalam pasokan akan mengubah arah menjadi berpotensi naik pada 2022, kata bank tersebut. Brent berada di atas 55 dolar AS pada Senin.

"Kami sedang memoderasi rebound permintaan dengan memperhitungkan permulaan vaksinasi yang lebih lambat dan langkah pembukaan kembali yang hati-hati, terutama mengarah pada pemulihan yang lebih lambat dalam permintaan jet," kata Goldman.

Bank memperkirakan permintaan naik 5,3 juta barel per hari dalam enam bulan hingga Juli, turun dari perkiraan sebelumnya 6,8 juta barel per hari.

Baca juga: Harga minyak Brent naik,di tengah peluncuran vaksin yang lamban

Arab Saudi telah berjanji untuk melakukan pengurangan produksi minyak tambahan secara sukarela pada Februari dan Maret, sementara sebagian besar anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, setuju untuk menjaga produksi tetap stabil.

"Sifat perjanjian OPEC+ terbaru juga akan berkontribusi pada pengetatan pasar yang cepat karena permintaan yang lebih tinggi musim semi ini akan menekan kemampuan produsen untuk memulai kembali produksi," kata Goldman.