Pasar notebook menggiurkan, Sharp incar penjualan 6.000 unit tahun ini

Budi Suyanto
·Bacaan 2 menit

PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) mengincar pasar notebook yang besar dan dan terus tumbuh di Tanah Air dengan fokus mengembangkan penjualan Dynabook sejak enam bulan lalu untuk mencapai target sekitar 6.000 unit tahun ini.

"Pasar notebook itu sangat menarik bagi kita, pasarnya mencapai Rp6 triliun per bulan," kata Senior GM Divisi Penjualan Domestik SEID Andy Adi Utomo di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan setiap bulan sekitar 120.000 unit notebook terjual di Indonesia dengan nilai mencapai Rp6 triliun.

"Ini membuat kami tertarik sekali, luar biasa nih pasarnya," ujar Andy.

Baca juga: Sharp Indonesia gandeng Telkom perkenalkan TV game streaming pertama

Namun pasar notebook yang besar tersebut; lanjut dia, berada di segmen harga di bawah Rp6 juta per unit, yang saat ini Sharp melalui Dynabook belum masuk ke segmen tersebut.

Dynabook merupakan notebook Toshiba yang dipasarkan Sharp di Indonesia, dengan lini harga Rp8 juta hingga Rp14 juta lewat varian Satelitte Pro L-40 G dan Satelitte Pro C-40 H.

Andry mengakui sebagai pemain baru di bisnis notebook di Indonesia tidak mudah, meskipun merek Jepang dan Toshiba pernah terkenal sebagai merek notebook di Indonesia lewat varian Tecra, Portege, di samping Satelitte.

"Respons pasar cukup bagus, saat ini penjualan kami sekitar 500 unit per bulan," katanya.

Baca juga: Permintaan naik di era WFH, Sharp Indonesia garap pasar notebook

Untuk lebih mempeluas penetrasi, pihaknya berencana akan masuk ke segmen notebook dengan harga sekitar Rp6 juta per unit pada tahun ini.

"Target penjualan kita tahun ini sekitar 6.000 unit," kata Head Marketing AUVI Product Strategy Division SEID Ardy menambahkan.

Untuk itu pihaknya akan memperkuat brand awareness Dynabook, mempeluas jaringan penjualan, dan menyiapkan tenaga penjualan khusus notebook mengingat Sharp lebih dikenal dan kuat dalam pemasaran barang elektronik rumah tangga.

Selain itu, lanjut Ardy, Sharp juga bakal memperkuat pemasaran B to B seperti mengincar pembelanjaan BUMN maupun pemerintah khususnya bidang pendidikan untuk pembelian notebook.

Seiring meredanya penularan COVID-19 dan rencana dibukanya kembali sekolah pada semester II tahun ini, Ardy menilai sebagai ancaman terhadap pasar notebook. "Dengan kondisi itu pasar akan sedikit turun," katanya.