Pasar saham Asia merosot terseret risiko resesi yang tetap tinggi

Pasar saham Asia dilanda aksi jual tajam pada Jumat dan saham Eropa tampaknya akan mengikuti, karena investor bersiap untuk kenaikan suku bunga AS yang besar dan kuat minggu depan di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi global menyusul peringatan dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang dibuka di wilayah negatif pada Jumat dan dilanda aksi jual pada siang hari. Indeks MSCI terakhir merosot 1,1 persen, setelah saham-saham AS mengakhiri sesi sebelumnya dengan kerugian ringan.

Di wilayah tersebut, indeks ASX 200 saham Australia berakhir tergelincir 1,52 persen pada Jumat, sementara indeks saham Nikkei Jepang ditutup jatuh 1,11 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong juga menetap merosot 0,89 persen, indeks KOSPI Korea Selatan turun 0,79 persen dan indeks saham unggulan China CSI300 anjlok 2,35 persen.

"Ada rasa sakit yang muncul di pasar ekuitas dan kami memasuki fase di mana akan ada likuidasi lebih lanjut karena suku bunga akan tetap lebih tinggi lebih lama," kata Suresh Tantia, ahli strategi investasi senior di Credit Suisse.

"Dolar AS yang kuat tidak membantu pasar Asia dan itu akan menjadi negatif lebih lanjut untuk pasar ekuitas kawasan ini."

Dolar turun 0,14 persen terhadap yen menjadi 142,95, setelah turun 0,4 persen di awal sesi.

Ancaman Jepang terhadap intervensi mata uang mungkin memperlambat tetapi tidak menghentikan yen dari meluncur menuju posisi terendah tiga dekade sebelum akhir tahun, kata analis pasar dan manajer dana.

Euro turun 0,1 persen hari ini di 0,9987 dolar, setelah kehilangan 0,51 persen dalam sebulan, sementara indeks dolar, yang melacak greenback terhadap sekeranjang enam mata uang mitra dagang utama lainnya, naik di 109,83.

Yuan China melemah melewati level psikologis penting 7 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Pada awal perdagangan Eropa, pan-region Euro Stoxx 50 berjangka turun 0,76 persen pada 3.517 poin, indeks DAX berjangka Jerman turun 0,93 persen pada 12.849 poin, FTSE berjangka turun 0,61 persen pada 7.247,5 poin.

Saham berjangka AS, S&P 500 e-mini, turun 0,7 persen pada 3.874,8 poin.

Prospek ekonomi global tetap suram dan beberapa negara diperkirakan akan tergelincir ke dalam resesi pada 2023, tetapi terlalu dini untuk mengatakan apakah akan ada resesi global yang meluas, kata IMF pada Kamis (15/9/2022).

IMF pada Juli merevisi turun pertumbuhan global menjadi 3,2 persen pada 2022 dan 2,9 persen pada 2023. Lembaga keuangan multilateral ini akan merilis prospek baru bulan depan.

Sebagai perbandingan, Bank Dunia mengatakan dunia dapat bergerak menuju resesi global pada 2023 karena bank sentral di seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi yang persisten.

Tiga ekonomi terbesar dunia - Amerika Serikat, China, dan zona euro - telah melambat tajam, dan bahkan "pukulan moderat terhadap ekonomi global selama tahun depan dapat menyebabkan resesi", katanya.

Di China, data pada Jumat menunjukkan ketahanan yang mengejutkan pada Agustus, dengan pertumbuhan output pabrik dan penjualan ritel yang lebih cepat dari perkiraan menopang pemulihan yang rapuh, tetapi penurunan properti yang semakin dalam dan pendinginan ekspor membebani prospek.

Terlepas dari data yang lebih baik, investor masih fokus pada pengejaran China terhadap strategi nol COVID, yang hampir mendorong ekonomi ke dalam kontraksi pada kuartal kedua.

"Kegiatan ekonomi jangka pendek China bergantung pada kebijakan COVID-nya, bagaimana mereka mengelolanya. Dengan pendekatan yang lebih pragmatis, pasar mengharapkan akan ada lebih banyak kepercayaan yang akan menyuntikkan lebih banyak optimisme ke pasar," kata Marcella Chow, ahli strategi pasar global di JPMorgan Asset Management.

Di perdagangan Asia, imbal hasil acuan pada obligasi pemerintah AS 10-tahun berada di 3,4533 persen dibandingkan dengan penutupan AS sebesar 3,459 persen pada Kamis (15/9/2022).

Imbal hasil obligasi dua tahun, yang naik bersama ekspektasi pedagang terhadap suku bunga dana Fed yang lebih tinggi, menyentuh 3,8925 persen dibandingkan dengan penutupan AS di 3,873 persen.

Imbal hasil tersebut mencapai level tertinggi baru dalam 15 tahun setelah penjualan ritel AS dan data klaim pengangguran yang beragam, yang menurut para analis memperkuat kasus kenaikan suku bunga Federal Reserve yang agresif.

Pasar saat ini sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga 75 basis poin minggu depan, kata para ekonom.

Minyak mentah AS naik 0,31 persen menjadi diperdagangkan di 85,36 dolar AS ​​per barel. Minyak mentah Brent naik menjadi diperdagangkan di 91,24 dolar AS per barel. Sementara itu, emas sedikit lebih rendah dengan emas di pasar spot diperdagangkan pada 1.662,49 dolar AS per ounce.

Baca juga: Wall Street jatuh di tengah ekspektasi pengetatan Fed dan data ekonomi
Baca juga: Dolar melayang ke dekat tertinggi baru, yuan tembus level kunci
Baca juga: Harga minyak Asia naik tipis, namun di jalur penurunan mingguan