Pasar saham global pertahankan kenaikan jelang data inflasi AS

Saham Eropa memperpanjang kenaikan mereka pada Rabu, dan imbal hasil obligasi bertahan di bawah tertinggi baru-baru ini menjelang data inflasi di Amerika Serikat yang akan menawarkan panduan tentang seberapa agresif Federal Reserve akan menaikkan suku bunga.

Ekuitas Asia sedikit lebih tinggi dari posisi terendah hampir dua tahun dan Wall Street berjangka juga naik sebelum rilis data inflasi yang sangat ditunggu-tunggu yang menurut para analis dapat menunjukkan tekanan inflasi di ekonomi terbesar dunia sedang memuncak.

Indeks acuan MSCI untuk saham global naik 0,2 persen pada pukul 08.22 GMT setelah meluncur pada Selasa (10/5/2022) ke level terendah sejak November 2020 di tengah kekhawatiran pengetatan Fed dapat secara signifikan memperlambat ekonomi global. Indeks merosot 17 persen sepanjang tahun ini.

Indeks STOXX 600 pan-Eropa naik 0,7 persen. Ekuitas berjangka AS naik, dengan Nasdaq dan e-mini S&P 500 masing-masing naik 0,8 persen dan 0,7 persen.

Kekhawatiran atas goyahnya pertumbuhan, diperburuk oleh penguncian virus terbaru di China, menahan aksi jual obligasi pemerintah yang membuat imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun melonjak melewati 3,0 persen bulan ini untuk pertama kalinya sejak Desember 2018.

"Ini adalah pasar yang tidak terikat di mana orang tidak tahu ke mana (imbal hasil) akan bergerak. Sisi pertumbuhan semakin menonjol dalam hal kekhawatiran pasar," kata Charles Diebel, kepala pendapatan tetap di Mediolanum International Funds.

"Jika inflasi terus mencetak lebih tinggi dan lebih tinggi, pasar akan terus dilanda aksi jual. Secara intuitif inflasi tidak dapat terus naik karena efek dasar akan berkurang di beberapa titik, tetapi apakah kita sudah mencapai perkiraan itu?" dia menambahkan.

Analis memperkirakan indeks harga konsumen AS menunjukkan kemunduran tajam dalam pertumbuhan bulanan, mendingin ke 0,2 persen pada April dari 1,2 persen pada Maret.

Mereka juga memprediksi kenaikan tahunan sebesar 8,1 persen, 0,4 poin persentase lebih rendah dari 8,5 persen sebelumnya, yang merupakan angka terpanas sejak Desember 1981.

Di Asia, saham unggulan China naik 1,4 persen setelah pejabat Shanghai mengatakan separuh kota telah mencapai status "nol COVID", dan setelah Presiden AS Joe Biden mengatakan dia sedang mempertimbangkan untuk menghapus tarif era Trump di China.

Data China yang dirilis pada Rabu (10/5/2022) menunjukkan harga konsumen naik 2,1 persen dari tahun sebelumnya, di atas ekspektasi dan laju tercepat dalam lima bulan, sebagian karena harga-harga pangan.

Obligasi pemerintah AS mundur pada jam perdagangan Eropa menjelang data inflasi.

Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun turun 4,7 basis poin menjadi 2,9421 persen, memperpanjang penurunannya dari tertinggi tiga tahun 3,203 persen yang dicapai pada Senin (9/5/2022).

Imbal hasil obligasi dua tahun AS, yang sering mencerminkan prospek suku bunga Fed, turun 1,4 basis poin menjadi 2,592 persen.

Taruhan atas pengetatan Fed yang agresif juga telah mendukung dolar tahun ini.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,3 persen menjadi 103,65, di bawah tertinggi dua dekade 104,19 yang dicapai pada awal pekan.

The Fed pekan lalu menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dan Ketua Jerome Powell mengatakan dua kenaikan seperti itu kemungkinan akan terjadi pada pertemuan kebijakan bank sentral AS yang akan datang.

Ada juga spekulasi di pasar bahwa Fed akan perlu masuk untuk kenaikan besar-besaran 75 basis poin pada satu pertemuan dan saat ini pasar uang memperkirakan lebih dari 190 basis poin kenaikan suku bunga gabungan dari tahun ke tahun.

"Masalah saat ini adalah bahwa pasar yakin bahwa Fed bertekad untuk melawan inflasi dan karena itu bersedia untuk mentolerir volatilitas pasar dan beberapa kehancuran permintaan lebih dari di masa lalu. Secara pribadi, saya kurang yakin dengan tekad ini," kata Giuseppe Sersale, fund manager di Antilia.

Minyak bangkit kembali setelah jatuh hampir 10 persen selama dua sesi sebelumnya, didukung oleh kekhawatiran pasokan karena Uni Eropa berupaya mendapatkan dukungan untuk larangan minyak Rusia dan ketika produsen utama memperingatkan mereka mungkin berjuang untuk mengisi kesenjangan ketika permintaan membaik.

Brent naik 2,6 persen menjadi 105,10 dolar AS per barel dan minyak mentah AS naik 2,5 persen menjadi 102,3 dolar AS per barel. Sementara itu, emas spot naik sekitar 0,7 persen menjadi 1.850,2 dolar AS per ounce.

Baca juga: Saham global dan minyak jatuh, investor cari tempat berlindung aman
Baca juga: IHSG anjlok dinilai terkait kondisi makro ekonomi global
Baca juga: Saham-saham tersandung kekhawatiran pertumbuhan dan penguatan dolar

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel