Pasar Tomohon, gudang penjaja makanan ekstrem

MERDEKA.COM, Siapa tidak suka makan? Kegiatan manusia satu ini memang mengasyikkan. Ragam panganan disajikan oleh tiap orang di berbagai belahan bumi dengan berbagai macam cara dan gaya.

Kini, makanan tidak hanya dianggap sebagai kebutuhan hidup. Tetapi, juga menjadi salah satu hasil peradaban manusia yang sarat makna. Paduan antara falsafah hidup dan keterampilan menyelaraskan rasa.

Di Indonesia, tradisi kuliner sangat beragam di tiap daerah. Maklum saja, kondisi geografis Nusantara memang membuat karakter banyak penduduknya punya tradisi unik buat mengolah panganan kaya akan rasa. Apalagi negeri ini diberkahi oleh bahan alam luar biasa. Maka tidak heran pada masa lalu bermacam rempah dan bahan mentah menjadi rebutan bangsa asing.

Memang tradisi kuliner Indonesia tidak seperti negara-negara Barat. Baik dalam rasa, maupun soal bahan baku. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Sulawesi Utara ini. Beberapa dari mereka gemar menyantap makanan boleh dibilang tidak lazim. ekstrem. Sebenarnya hal ini bukan cuma dimiliki Indonesia, di negara lain juga ada.

Buat warga di Sulawesi Utara, nama Pasar Beriman di Tomohon pastilah akrab di telinga. Mereka yang ingin merasakan citarasa daging anjing, kelelawar, tikus, ular, monyet, ulat, dan lainnya bisa menyambangi tempat ini. Apalagi jika hari besar macam Natal atau Tahun Baru tiba, pasar itu makin ramai diserbu pembeli.

Siapkan mental Anda jika ingin menelusuri lebih dalam Pasar Beriman. Kalau anda tidak siap melihat pemandangan yang buat sebagian orang terbilang horor, maka lebih baik buru-buru urungkan niat Anda masuk pasar itu.

Entah kapan Pasar Beriman itu berdiri. Tetapi satu hal yang pasti pasar itu menjadi tempat warga Tomohon berburu bahan makanan ekstrem. Pemandangan daging monyet yang dicacah bersanding dengan para penjual paniki, istilah setempat buat kelelawar, yang digantung menjadi pemandangan lazim buat mereka. Anda bisa pilih, ada yang masih utuh dengan sayap atau sudah dipotong.

Belum lagi jika Anda beranjak ke bagian dalam, maka Anda akan melihat para penjual tikus yang sudah dibakar berjejer sembari menawarkan dagangan. Ada lagi para penjaja daging anjing. Anda pun diberi pilihan, mau yang masih hidup atau sudah mati. Jika Anda memilih anjing masih hidup, maka akan dimatikan terlebih dulu, baru setelah itu dibakar buat menghilangkan bulunya dan dicacah, kemudian siap dibawa pulang. Ada lagi penjual daging ular utuh lengkap dengan kulitnya. Anda tinggal minta berapa kilogram daging hewan melata itu, sang penjual lalu akan langsung mengasah pisau sebentar dan menyayat daging ular sesuai permintaan.

Para penjaja daging tikus pun tidak kalah. Mereka menjejerkan hewan pengerat itu utuh dengan ekor. Alasannya biar pembeli percaya yang mereka jual tikus hutan yang kabarnya rasanya gurih, dan bukan tikus got. Apapun alasannya, tetap saja yang dia jual itu tikus yang buat sebagian orang mendengar namanya saja sudah terbayang hewan itu kerap hidup di lingkungan kotor.

Mungkin hal itulah daya tarik Pasar Beriman Tomohon. Menjual bahan baku makanan yang tidak lazim dimakan, tapi nyatanya tetap dicari orang.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.