Pasien COVID-19 Bisa Sembuh Tanpa Obat? Ini Saran Ahli

·Bacaan 2 menit

VIVA – Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya sudah mulai terbebani dengan tingginya angka kasus COVID-19 sehingga pasien bergejala ringan dapat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Hal ini membuat masyarakat mengantre di apotek demi mendapatkan obat sebagai upaya penyembuhannya. Namun, bisakah COVID-19 sembuh tanpa obat?

Ketua Satuan Gugus Tugas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban mengatakan bahwa pada dasarnya obat khusus untuk mengatasi COVID-19 belum ditemukan.

Meski begitu, beberapa obat yang sudah ada bisa menjadi terapi pasien COVID-19 dan telah disetujui oleh badan kesehatan dunia (WHO).

Hal itu sudah dilakukan untuk pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit dengan gejala berat. Lantas, bagaimana dengan pasien COVID-19 yang menjalani isoman? Jawabannya, pasien bisa sembuh tanpa obat dengan syarat tertentu.

"Misalnya tidak ada gejala berat seperti sesak napas, panas tinggi, batuk terus menerus, dan pneumonia, ya bisa," jawab Prof Zubairi, dalam akun Twitternya.

Kendati demikian, Prof Zubairi menekankan bahwa untuk bisa menjalani isoman, pasien yang sudah terkonfirmasi positif tetap harus melapor kepada fasilitas kesehatan terdekat. Sebab, kondisi pasien COVID-19 harus dipantau terlebih dahulu.

"Perlu dicatat. Tidak 100 persen pasien Covid-19 itu sebenarnya boleh isoman. Salah satu syarat pasien yang boleh isoman adalah pasien yang rontgen parunya normal dan saturasi oksigennya tidak drop," tuturnya.

Diketahui, sesak napas menjadi gejala utama yang dialami pasien COVID-19 yang ditandai dengan penurunan saturasi oksigen.

Ada pun penurunan saturasi oksigen juga seringkali tanpa gejala, yang mana kondisinya disebut sebagai happy hypoxia. Hal ini yang membuat pasien harus terus memantau saturasi oksigen tubuhnya.

"Jika Anda berstatus positif COVID-19 dan sedang isolasi diri di rumah, penting untuk memeriksa tingkat saturasi oksigen Anda secara berkala. Pantau saturasi oksigen Anda tiap enam jam, tapi upayakan tetap tenang. Karena kecemasan justru akan meningkatkan denyut nadi Anda," ungkapnya.

Pulse oximeter atau oksimeter sendiri menjadi alat utama untuk memantau saturasi oksigen. Menurut Prof Zubairi, tak perlu membeli alat oksimeter yang mahal namun cukup yang sudah sesuai standard Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Setelahnya, rutin memantau saturasi oksigen disertai catatan angka dan gejala yang dialami untuk mempermudah proses observasi. Hal ini penting, lanjutnya, karena setiap penurunan saturasi yang konsisten akan mengharuskan pasien mendapat perawatan medis darurat.

Ada pun acuan tingkat saturasi oksigen yang ideal adalah 100 persen. Kemudian, termasuk kelompok yang cukup meyakinkan dengan angka di atas 98 persen. Lalu, angka 95-97 persen juga tidak mengkhawatirkan.

"Segera hubungi dokter atau petugas medis: < 94 persen," bebernya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel