Pasien COVID-19 di Bogor Kabur, Lompat dari Lantai Atas Rumah Sakit

Syahrul Ansyari, Muhammad AR (Bogor)
·Bacaan 2 menit

VIVA - Seorang pasien positif COVID-19 yang tengah diisolasi melarikan diri dengan cara melompat dari lantai atas di Rumah Sakit Santosa, Bogor. Petugas medis yang mengejar sempat kesulitan karena pasien terus berlari menghindari petugas.

Menurut salah satu saksi, petugas keamanan, Encep Setiawan, pasien tersebut kabur lewat jendela rumah sakit sekitar pukul 23.00 WIB.

"Kejadian jam 11 tadi malam kaburnya lewat jendela karena awalnya petugas jaga di lantai dua mendengar ada suara dari ruangan pasien itu. Saya mendampingi untuk mengecek tapi ternyata kamarnya sudah kosong jendela terbuka," katanya.

Petugas berhasil menemukan pasien sedang berjalan kaki di jalan raya yang cukup jauh dari lokasi rumah sakit. Namun saat petugas berupaya menjemput, pasien tersebut menolak dan justru lari menghindari petugas.

Baca juga: 108 Orang Pasien di Bangka Belitung Sembuh dari Covid-19

Dari sebuah video yang diterima VIVA, tampak petugas berpakaian APD lengkap mengeluarkan pasien tersebut dari ambulans.

RS Sentosa membenarkan peristiwa adanya pasien yang melarikan diri dari ruang perawatan di lantai dua rumah sakit. Pasien tersebut berhasil dijemput paksa oleh petugas karena dikhawatirkan menyebarkan COVID-19.

Rumah sakit sudah melakukan tracing kontak erat. Selama melarikan diri pasien tidak kontak dengan orang lain.

"Benar soal pasien yang berusaha keluar dari ruang isolasi COVID, telah kami tangani dan dipastikan tidak ada kontak langsung dengan siapapun," kata Komisaris Utama dokter Frits M. Rumintjap kepada wartawan, Jumat, 19 Februari 2021.

Selain tracing, petugas medis sudah melakjkan pemeriksaan kesehatan ulang kondisi pasien. Saat kni pasien sudah berada di ruang isolasi.

"Setelah dilakukan pemeriksaan kondisi kesehatannya, maka pasien langsung dibawa kembali ke ruang isolasi pasien COVID-19," katanya.

Dokter Frits mengatakan pasien tersebut harus menjalani perawatan isolasi selama minimal 10 hari seusai prosedur COVID-19. Sedangkan, pasien berjenis kelamin laki-laki dengan usia 52 itu sudah menjalani isolasi selama empat hari.

Pasien diduga mengalami gangguan psikoligis sehingga berhalusinasi ada yang menganggu saat berada di ruang isolasi.

"Katanya dia melihat bayangan dan lain-lain. Kemungkinan masalah psikologis. Namun terlepas dari hal tersebut yang difokuskan kami, suka duka kami dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Sesuai prosedur perawatan, pasien ini harus dirawat di ruang isolasi minimal 10 hari," kata dokter Frits.