Pasien COVID-19 Idap Autoimun Seperti Ashanty, Apa Bahayanya?

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Artis Ashanty mengumumkan bahwa dirinya terinfeksi COVID-19. Tak sendirian, ketiga anaknya turut terinfeksi virus SARS-CoV-2 yakni Aurel, Azriel, dan Arsy usai melakukan tes PCR.

Istri Anang Hermansyah itu diketahui terinfeksi COVID-19 dengan memiliki kondisi penyakit autoimun. Tak sedikit yang mempertanyakan kerentanan kondisi tersebut terhadap gejala berat COVID-19. Lantas, seberapa besar risiko tersebut? Berikut faktanya dikutip dari laman NY Times.

Peradangan lebih hebat

Secara teori, autoimun akan membuat sistem kekebalan relatif terlalu aktif, seringkali menyebabkannya menyerang tubuh. Itu tidak berarti pasien autoimun lebih baik dalam melawan infeksi. Malah, sistem kekebalan yang terlalu aktif saat melawan virus dapat memicu peradangan yang tidak diharapkan.

Masuk akal bahwa seseorang dengan kelainan sistem kekebalan lebih mungkin untuk terinfeksi COVID-19. Tak jarang, gejala berat dapat dialami oleh pasien COVID-19 yang juga memiliki autoimun, bahkan meninggal karena virus itu.

Pengobatan ditunda

Selain itu, obat-obatan tertentu yang digunakan untuk mengobati autoimun dan kondisi peradangan kronis dapat mengganggu sistem kekebalan. Perawatan yang menekan sistem kekebalan dalam upaya menggagalkan kerusakan jaringan normal dapat membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi.

Tak dapat digeneralisasi

Dijelaskan secara tegas oleh banyak penelitian, kondisi autoimun yang lebih rentan akan gejala berat itu, tak bisa digeneralisasi lantaran belum ada bukti lebih jauh. Dalam beberapa penelitian, pasien autoimun yang lebih tua lebih mungkin menderita COVID-19 parah atau meninggal, yang terjadi pada populasi secara keseluruhan.

Dalam dua penelitian lainnya, orang-orang dengan kondisi medis yang menyertai seperti hipertensi dan obesitas juga berisiko lebih tinggi untuk meninggal, yang juga terjadi pada populasi umum.

Ada kemungkinan bahwa pasien dengan kondisi autoimun, dan terutama mereka yang menerima terapi imunosupresif, sangat teliti dengan pencegahan infeksi seperti menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan.

Tindakan tersebut mungkin telah berkontribusi pada hasil yang lebih baik dari infeksi COVID-19 pada kelompok ini. Tetapi secara umum, dokter belum mengamati peningkatan risiko infeksi COVID-19 yang parah atau kematian pada mereka yang memiliki gangguan autoimun.