Pasien Diabetes, Amankah Berbuka Puasa Dengan yang Manis?

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika Sp.PD - KEMD, mengatakan, pasien diabetes harus memenuhi beberapa syarat jika ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Menurut dia yang juga disarankan oleh para ahli, penyandang diabetes harus memiliki guide line tersendiri dari dokter, yang sudah dipersiapkan jika ingin menjalankan puasa.

"Jadi satu, dua bulan, sebelum puasa seharusnya mempersiapkan diri dengan anjuran dokter. Supaya mempersiapkan gula darahnya tetap baik," ujarnya saat webinar media sekaligus peluncuran Klik Diabetes dari Kalbe Farma dan Klik Dokter, belum lama ini.

Di samping itu, menurut Ketut, biasanya jika si penyandang diabetes menggunakan pil atau suntikan. Maka untuk orang-orang ini ada sedikit penyesuaian.

"Karena kan pola makannya berubah. Jadi selama siang hari, sama sekali tidak konsumsi makanan, tapi dia mulai pada saat buka puasa dan diakhiri dengan sahur. Nah ini ada beberapa obat yang harus dikurangi dosisnya, diubah waktu pemberiannya, dan ini memang harus ada konsultasi dokter sebelum puasa, apakah aman puasa," kata dia.

Manfaat puasa

Ketut tidak memungkiri, puasa memilik banyak manfaat untuk kesehatan tubuh, termasuk dapat memperbaiki metabolisme. Untuk itu, para penderita diabetes tinggal menyesuaikannya saja.

"Jadi sebenarnya puasa sendiri apalagi 12 jam tidak makan, itu betul memperbaiki metabolisme tubuh. Jadi manfaatnya besar. Oleh karena demikian, kita tinggal memahami tentang metabolisme tubuh ini terhadap obat-obatan yang digunakan," tuturnya.

Ketut mengatakan, akan lebih baik jika penyandang diabetes berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berpuasa. Apa alasannya?

"Karena akan ada perubahan pengobatan. Yang titik krusial dari pasien-pasien diabetes yang berpuasa adalah bagi mereka terutama kalau gula darahnya terlalu drop atau terlalu tinggi, titik krusialnya ada pada sebelum buka puasa," ujarnya.

Ketut menambahkan, “Jadi kalau sebelum buka puasa itu kadang-kadang sudah puasa dari pagi, dia gula darahnya akan menurun. Hati-hati ada penggunaan obat-obatan yang bikin drop nanti bisa hipoglikemia, gula darah terlalu rendah sesaat sebelum buka puasa, ini risiko yang pertama."

Kemudian risiko yang kedua adalah penyandang diabetes yang gula darahnya terlalu tinggi. Untuk itu, Ketut menyarankan, untuk mengendalikan gula darahnya terlebih dulu.

"Kalau tidak dipersiapkan dengan baik, jadi pada saat dia mulai buka puasa, kalau konsumsinya manis-manis, maka akan terjadi lonjakan gula darah yang amat tinggi, ini juga berisiko buat pasien," kata dia.

Lalu, apakah aman penderita diabetes mengonsumsi makanan atau minuman manis untuk berbuka puasa?

"Sebenarnya relatif aman kalau kita sudah mempersiapkan pasien diabetes ini dengan pengobatan sedemikian rupa, sehingga gulanya tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Sehingga pada saat mulai konsumsi makanan manis pada saat buka puasa dia tidak akan menyebabkan lonjakan gula darah yang begitu tinggi. Jadi tidak berisiko bagi pasien," ujar dia.

"Tetapi mungkin kita bisa ngatur sendiri bagi pasien-pasien diabetes, konsumsi manisnya jangan sedemikian banyaknya. Karena dia akan berpengaruh. Karena gula kan langsung meningkatkan gula darah secara mendadak," tutur dr. Ketut Suastika.