Pasien Diabetes Berisiko Kematian Jika Kena COVID-19, Begini Mengatasi

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 1 menit

VIVA – Orang dengan penyakit komorbid atau penyerta, terutama diabetes, akan mengalami perberatan gejala jika sampai terjangkit virus corona atau COVID-19.

Bahkan, risiko kematiannya jauh lebih besar pada mereka yang menderita penyakit diabetes jika sampai terkena COVID-19. Lalu, bagaimana cara meminimalisasi risikonya?

Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika Sp.PD - KEMD, mengatakan, pada fase COVID-19, diabetesi atau penderita diabetes harus lebih strict lagi karena risiko tertular semakin besar.

"Walaupun dalam statistik dikatakan orang diabetes tidak selalu lebih sering terkena. Tapi yang pasti, kalau terkena biasanya lebih berat dan lebih banyak meninggalnya dibanding non diabetes," ujarnya saat media webinar sekaligus peluncuran Klik Diabetes, yang digelar Kalbe Farma dan Klik Dokter, Kamis 29 April 2021.

Oleh karena itu, menurut Profesor Ketut, pasien COVID-19 yang memiliki penyakit penyerta, terutama diabetes harus lebih serius untuk merawat diri.

"Tetapi konsep perawatannya sendiri tetap saja sama. Jadi, perubahan pola hidup, menambah pengetahuan, perubahan pola hidupnya terkait nutrisi, makan sehat, olahraga dan terus minum obat," tutur dia.

Lebih lanjut Ketut menjelaskan, terlebih di awal-awal pandemi, banyak pasien diabetes yang takut memeriksakan diri ke rumah sakit, sehingga konsumsi obat sering terlewatkan, yang berujung pada risiko terjangkit COVID-19.

"Ini sangat berisiko untuk mendapatkan COVID-19. Jadi tetap kita anjurkan pasien-pasien untuk tetap mengonsumsi obat bagi mereka-mereka yang sudah dianjurkan untuk meminum obat oleh dokter. Saya kira prinsipnya itu di samping secara umum ada anjuran-anjuran umum seperti halnya protokol kesehatan," kata Prof. Ketut Suastika.