Pasien Virus Corona COVID-19 Meninggal di AS Tembus 1.000 Orang

Liputan6.com, Washington, D.C. - Angka kematian yang disebabkan Virus Corona COVID-19 di Amerika Serikat sudah menembus 1.000 orang pada Rabu malam waktu setempat. Total hari sebelumnya ada 827 yang meninggal.

Dilaporkan New York Post, hingga Kamis (26/3/2020), ada 1.031 korban meninggal di AS. Untuk jumlah kasus, AS mencatat ada 68.572 kasus terkonfirmasi.

Saat ini AS berada di peringkat tiga dari segi kasus terkonfirmasi. Dua negara lainnya adalah China dan Italia yang punya angka kasus tertinggi di benua masing-masing.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, negaranya sudah melakukan tes besar-besaran. Jumlah orang yang dites di AS sudah melewati jumlah di Korea Selatan yang lebih dulu tes Virus Corona secara masif.

"Baru saja dilaporkan bahwa Amerika Serikat teah melakukan lebih banyak testing ketimbang negara lain sejauh ini! Faktanya, dalam jangka delapan hari, Amerika Serikat sekarang telah melakukan lebih banyak testing ketimbang yang dilaksanakan Korea Selatan (yang telah menjadi penguji yang sangat sukses) selama jangka delapan minggu. Kerja bagus!" ujar Trump via Twitter.

Hingga Kamis ini, Korea Selatan telah melakukan tes untuk 364.942 orang. 341 ribu di antaranya negatif Virus Corona.

Wilayah yang paling parah terdampak di AS adalah California dan New York.

Presiden Donald Trump juga sudah menyetop pemungutan student loans bagi orang-orang yang meminjam uang untuk membayar uang kuliah.

Senat AS juga sudah setuju meloloskan paket ekonomi sebesar US$ 2 triliun untuk melawan Virus Corona. Bantuan ini ditargetkan membantu rumah sakit, bisnis kecil, industri, serta bantuan langsung tunai bagi keluarga di Amerika Serikat.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Donald Trump Targetkan Ekonomi AS Pulih Saat Paskah

Presiden AS Donald Trump (AP PHOTO)

Di tengah pandemi Corona COVID-19 dunia, Presiden Donald Trump ingin Amerika kembali ke bisnis sebelum Paskah. Bahkan ia menyarankan bahwa beberapa upaya untuk memperlambat penyebaran wabah Virus Corona baru tidak lagi dibutuhkan saat itu, melainkan Corporate America yang akan mengambil kepemimpinan dari para profesional kesehatan.

Trump yang prihatin dengan dampak ekonomi dari penutupan bisnis non-esensial yang diperpanjang, mengatakan dalam sebuah wawancara televisi pada hari Selasa bahwa ia ingin melihat bisnis kembali normal pada Paskah, atau 12 April. Demikian seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (26/3/2020). 

"Saya ingin negara ini kembali terbuka menjelang Paskah," katanya di Fox News Channel.

Tetapi Kamar Dagang AS, Federasi Eceran Nasional dan Asosiasi Restoran Nasional menunjukkan rekomendasi yang kurang optimis oleh pejabat kesehatan masyarakat. Banyak dari mereka telah mendesak agar orang Amerika tinggal di rumah sebanyak mungkin selama berminggu-minggu untuk mencegah penyebaran Virus Corona baru.

"Itu sulit. Saya pikir akan lebih mudah untuk menerima sesuatu yang saya rasa nyaman dilakukan dan tidak membahayakan nyawa," kata Melanie Krautstrunk, yang memiliki sebuah pub di Tennessee.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: