Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik PLN Menipis

Merdeka.com - Merdeka.com - Pasokan batu bara untuk pembangkit listrik milik PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) dikabarkan mulai menipis. Penyebabnya, pihak produsen lebih memilih mengekspornya ketimbang memenuhi kewajiban pasar domestik atau domestic market obligation (DMO).

Namun demikian, Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua & Nusa Tenggara PLN Adi Priyanto mengklaim, stok batu bara dalam negeri untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih cenderung aman.

Kendati demikian, Adi juga tak menepis adanya potensi pengurangan suplai imbas produsen yang lebih memilih bayar denda sanksi ekspor dari pada memenuhi DMO batu bara.

"Sampai dengan saat ini hari operasi kita masih terpenuhi dengan baik. Jadi memang pak Menteri (ESDM) mengatakan ada potensi. Oleh karena itu ini masih dijagain lah hari operasi oleh pak Menteri, karena ini kan hajat hidup orang banyak. Sehingga pak Menteri (ESDM) pasti menjaga hal itu," ungkapnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (10/8/2022).

Secara angka, dia menyebut pasokan batu bara secara rata-rata bisa tercukupi antara 15-30 hari operasi (HOP).

"Minimal 15 hari. Indonesia Timur ada yang sampai 30 HOP. Tapi rata-rata kita menjaga 15 hari. Masih aman, aman," ujar Adi.

Perusahaan Tak Laksanakan DMO

Menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), total ada 71 perusahaan yang belum melaksanakan kewajiban DMO batu bara untuk PLN sepanjang Juli 2022.

Tapi, Adi tak khawatir dan tetap menaruh kepercayaan kepada pemerintah, bahwa DMO batu bara tetap terjaga hingga akhir tahun.

"Saya kira DMO saat ini masih terjaga. Tetapi ya pemenuhan DMO oleh pak Menteri (ESDM) dan yang terkait. Saya yakin itu (terjaga). Saat ini belum kekurangan stok, masih terpenuhi," tuturnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com [idr]