Pasokan dari Libya dan Rusia Turun, Harga Minyak Dunia Kembali Meroket

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Harga minyak mentah dunia kembali naik di perdagangan Asia pada Kamis sore. Ini terjadi karena kekhawatiran tentang pasokan akibat potensi larangan Uni Eropa (UE) terhadap minyak Rusia muncul ke permukaan, beberapa hari setelah berkurangnya pasokan dari Libya mengguncang pasar.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,32 atau 1,24 persen menjadi diperdagangkan di USD 108,12 per barel pada pukul 06.36 GMT. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD 1,26 atau 1,23 persen, menjadi diperdagangkan di USD 103,45 per barel, menambah kenaikan 19 sen di sesi sebelumnya.

Para analis mengatakan, volatilitas pasar kemungkinan akan segera meningkat lagi, dengan Uni Eropa masih mempertimbangkan larangan minyak Rusia karena invasinya ke Ukraina, yang disebut Moskow sebagai "operasi militer khusus".

"Diskusi Uni Eropa untuk melarang atau menghapus pembelian minyak Rusia, pengaruh terbesar pada harga minyak mentah dalam beberapa hari terakhir, berprioritas rendah tetapi belum diselesaikan, yang dapat membatasi harga minyak mentah ke kisaran yang relatif sempit pada basis penyelesaian harian," kata Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights.

Libya, anggota OPEC, pada Rabu (20/4) mengatakan negara itu kehilangan lebih dari 550.000 barel per hari produksi minyak karena blokade di ladang utama dan terminal ekspor.

Prospek permintaan di China terus membebani pasar, ketika importir minyak terbesar dunia itu perlahan-lahan melonggarkan pembatasan ketat Covid-19 yang telah memukul aktivitas manufaktur dan rantai pasokan global.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyoroti risiko di China ketika memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global hampir satu poin persentase penuh pada Selasa (19/4.

Pengiriman Minyak Libya

Sementara itu, terminal Laut Hitam Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) dapat kembali ke kapasitas penuh minggu ini, Menteri Energi Kazakh Bolat Akchulakov mengatakan pada Rabu (20/4/2022).

"Dimulainya kembali pengiriman minyak mentah CPC akan diimbangi dengan pemadaman yang berkelanjutan di Libya dan kemungkinan lebih banyak minyak mentah Rusia yang terkunci dari pasar dalam menghadapi larangan Uni Eropa," kata Hari.

Pasar minyak tetap ketat dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu yang dipimpin oleh Rusia, bersama-sama disebut OPEC plus berjuang untuk memenuhi target produksi mereka dan dengan stok minyak mentah AS turun tajam dalam pekan yang berakhir 15 April.

"Saya terus memperkirakan bahwa Brent akan tetap dalam kisaran 100 dolar hingga 120 dolar AS yang berombak, dengan WTI dalam kisaran 95 dolar AS hingga 115 dolar AS ... Potensi embargo minyak Eropa terhadap Rusia minggu depan setelah pemilihan Prancis, dapat melihat pergerakan menuju puncak kisaran," kata Jeffrey Halley, analis di OANDA. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel