Pastika: Manfaatkan hasil laut untuk cerdaskan anak-anak Bali

·Bacaan 2 menit

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika mengajak berbagai pihak di Provinsi Bali agar memasifkan sosialisasi gemar makan ikan dan dapat memanfaatkan hasil kekayaan laut dengan optimal untuk mencerdaskan anak-anak di daerah itu.

"Kalau hasil laut kita yang bagus-bagus hanya diimpor, nanti yang pintar anak-anak di luar negeri, sedangkan kita tetap tertinggal," kata Pastika saat melakukan reses ke kawasan Pesanggaran, Kota Denpasar, Rabu.

Mantan Gubernur Bali itu mengemukakan kandungan gizi pada ikan itu sangat baik untuk kecerdasan, namun persoalannya, bagaimana anak-anak di Pulau Dewata itu gemar makan ikan.

Pastika mengutip hasil penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Bali sebelumnya, lebih dari 75 persen anak sekolah dasar di Pulau Dewata tidak suka makan ikan dan sayur.

"Mereka lebih suka makan daging. Kalau kondisi ini dibiarkan, jadi apa yang kita harapkan pada generasi ke depan?" ucap anggota Komite 2 DPD itu, mempertanyakan.

Oleh karena itu, ia mendorong agar hasil kekayaan bahari di Pulau Dewata diolah dengan lebih kreatif, sehingga bisa memikat anak-anak. "Misalnya kalau burger dan sosis terbuat dari ikan kan bagus," ujar mantan Kapolda Bali itu.

Pastika dalam kegiatan reses bertajuk "Pengolahan Hasil Perikanan sebagai Produk Masyarakat yang Berkualitas" itu, ia melihat proses pengolahan ikan yang dilakukan oleh Damena Processing Food, di Pesanggaran, Kota Denpasar.

Dalam kesempatan tersebut, Pastika juga mengapresiasi usaha dari Damena Processing Food yang tidak semata-mata komersial, juga memproduksi berbagai produk olahan berbahan ikan supaya menarik minat anak-anak.

Sementara itu, Manajer Operasional di Damena Processing Food Kadek Yuliastawa mengatakan perusahaan yang berdiri sejak 2003 itu selama ini mengekspor perikanan bernilai ekonomi tinggi, seperti ikan karang dan tuna ke sejumlah negara, yang terbanyak ke Australia dan Amerika.

Semenjak pandemi COVID-19, karena ada keterbatasan penyerapan dari industri pariwisata, pihaknya juga memproduksi sejumlah produk makanan olahan berbahan ikan, seperti bakso, sosis, nugget, siomay, abon dan sebagainya, dengan menggunakan bagian-bagian tubuh ikan yang tidak diekspor.

"Yang jelas, kami tidak membedakan kualitas ikan yang diekspor dengan kualitas yang dikonsumsi masyarakat lokal Bali. Masyarakat kita tentunya harus mendapatkan ikan dengan kualitas yang juga terjaga," ujarnya, didampingi Internal Control Officer Cok Widya itu.

Dengan mengolah ikan menjadi bentuk makanan yang akrab dengan anak-anak, diharapkan mereka menjadi lebih senang untuk mengonsumsi ikan.

Yuliastawa menambahkan Damena juga menjalin kerja sama dengan nelayan, yakni nelayan difasilitasi dan hasil tangkapannya dibeli.

Damena bergerak di bidang distribusi, pemprosesan, pemanenan dan pemasaran dari berbagai produk makanan laut segar dan beku yang ditangkap dengan tali dan kail di kepulauan Indonesia, dengan volume hingga 150 ton per bulan.

Tak hanya dieskpor, Damena juga menjual produk dalam partai besar maupun eceran untuk area lokal di Bali, seperti hotel dan restoran serta beberapa perusahaan dan perorangan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel