Pasukan Azerbaijan memasuki distrik pertama yang diserahkan oleh Armenia

·Bacaan 3 menit

Aghdam (AFP) - Azerbaijan mengatakan, Jumat, pasukannya telah memasuki distrik yang berbatasan dengan Nagorno-Karabakh yang diserahkan kembali oleh separatis Armenia setelah hampir 30 tahun, sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian yang dimediasi Rusia untuk mengakhiri pertempuran brutal selama berpekan-pekan di wilayah tersebut.

Pasukan bergerak ke distrik Aghdam, satu dari tiga wilayah yang akan dikembalikan, kata kementerian pertahanan Azerbaijan, sehari setelah konvoi tentara dan tank Armenia keluar dari wilayah itu.

Armenia juga akan menyerahkan distrik Kalbajar yang terjepit antara Nagorno-Karabakh dan Armenia pada 25 November dan distrik Lachin pada 1 Desember.

Pada Kamis, penduduk Armenia di Aghdam dengan tergesa-gesa memetik buah delima dan kesemek dari pohon yang mengelilingi rumah mereka dan mengisi mobil van dengan furnitur, sebelum bergegas pergi menjelang batas waktu resmi untuk menyerahkan provinsi pegunungan itu.

"Kami ingin membangun sauna, dapur. Tapi sekarang saya harus membongkar semuanya. Dan saya akan membakar rumah dengan semua yang saya miliki ketika saya pergi," kata Gagik Grigoryan, seorang pekerja listrik berusia 40 tahun, kepada AFP sebelum meninggalkan rumahnya.

Bentrokan sengit antara pasukan Azerbaijan dan separatis Armenia pecah akhir September di wilayah Nagorno-Karabakh. Perang brutal itu berlangsung selama enam pekan sehingga menyebabkan ribuan orang tewas dan membuat makin banyak orang mengungsi.

Dua negara bekas Soviet yang lama berseteru itu pekan lalu akhirnya setuju mengakhiri permusuhan di bawah kerangka kesepakatan yang ditengahi Rusia di mana Moskow mengerahkan penjaga perdamaian ke wilayah tersebut dan mengharuskan Armenia menyerahkan sebagian wilayah.

Kaum separatis di Nagorno-Karabakh dan beberapa distrik sekitarnya merebut wilayah itu dan mengklaim kemerdekaan yang tidak diakui secara internasional, bahkan oleh Armenia, setelah perang pasca-Soviet 1990-an yang menewaskan sekitar 30.000 orang.

Sebagai bagian dari kesepakatan damai pekan lalu, Armenia setuju mengembalikan sekitar 15 hingga 20 persen wilayah Nagorno-Karabakh yang direbut Azerbaijan dalam pertempuran baru-baru ini, termasuk kota bersejarah Shusha.

Pertukaran wilayah pada awalnya akan dimulai Minggu, dengan orang-orang Armenia di distrik Kalbajar melarikan diri secara massal sebelum batas waktu resmi pengambilalihan Azerbaijan.

Tetapi Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menunda tenggat waktu satu pekan karena pertimbangan "kemanusiaan".

Pasukan penjaga perdamaian Rusia yang berjumlah sekitar 2.000 tentara telah dikerahkan ke pusat pemerintahan wilayah tersebut, Stepanakert, dan mendirikan pos pemeriksaan dan pos pengamatan di sepanjang koridor strategis Lachin yang menghubungkan Nagorno-Karabakh dengan Armenia.

Sementara penduduk Armenia di provinsi-provinsi yang akan diserahkan ke Azerbaijan telah pergi dalam sebuah eksodus, misi Rusia pada Kamis mengatakan telah membawa sekitar 3.000 penduduk kembali ke Stepanakert dan wilayah lain yang sempat melarikan diri selama enam pekan bombardemen hebat.

Sebagian besar distrik barat daya Azerbaijan, Aghdam, berada di bawah kendali separatis Armenia sejak 1993. Sebelum perang pasca-Soviet, distrik itu dihuni oleh sekitar 130.000 orang yang kebanyakan etnis Azerbaijan yang terusir dari rumah mereka.

Kementerian kesehatan Armenia mengatakan awal pekan ini bahwa lebih dari 2.400 pejuang negara itu tewas dalam pertempuran tersebut. Azerbaijan belum mengungkapkan korban jiwa militernya.

Setelah perjanjian perdamaian ditandatangani pekan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan total korban jiwa termasuk puluhan warga sipil telah melampaui 4.000 orang.

Peran penting Rusia dalam penyelesaian tersebut telah mengesampingkan pemain-pemain internasional seperti Amerika Serikat dan Prancis, yang menjadi perantara gencatan senjata pada 1990-an tetapi gagal memberikan resolusi jangka panjang.

Selama konflik baru-baru ini, Prancis, Amerika Serikat, dan Rusia berusaha memediasi tiga gencatan senjata terpisah yang gagal ketika Armenia dan Azerbaijan saling menuduh melakukan pelanggaran.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pekan ini mendesak Rusia mengklarifikasi "ambiguitas" atas gencatan senjata yang ditengahi Moskow, termasuk peran Turki dalam misi penjaga perdamaian.

Azerbaijan telah menekankan peran penting untuk sekutu setia Turki yang secara luas dituding oleh negara-negara Barat, Rusia dan Armenia memasok Baku dengan pejuang bayaran dari Suriah selama pertempuran berpekan-pekan.

bur-jbr/emg/pma/rma