Pasukan Israel Hancurkan Rumah Tersangka Pembunuh Esther Horgen

Mohammad Arief Hidayat, Dinia Adrianjara
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melakukan pembongkaran sebuah rumah di Tepi Barat, milik seorang pria Palestina yang mengaku membunuh wanita bernama Esther Horgen dalam serangan teror akhir tahun lalu.

Pembongkaran dilakukan seminggu setelah Pengadilan Tinggi memberi izin kepada Pasukan Pertahanan Israel, untuk menghancurkan dua lantai bangunan milik tersangka bernama Muhammad Mruh Kabha, di desa Tura al-Gharbiya, dekat Jenin.

Insiden pembunuhan Esther Horgen terjadi pada 20 Desember lalu, saat pergi mendaki di hutan Reihan, dekat rumahnya di pemukiman Tal Menashe. Kabha yang telah menunggu korban, berlari mengejar dan menjatuhkannya ke tanah.

Baca: Masjid yang Diyakini Dibangun Sahabat Rasulullah Ditemukan di Israel

Horgen sudah mencoba untuk melawan, namun pelaku menjepitnya dan berulang kali memukul kepalanya dengan batu besar. Korban berusia 52 tahun itu meninggal dengan kondisi kepala berdarah, serta patah di tulang lengan dan dadanya.

Jasad ibu dari enam anak itu ditemukan dini hari keesokan harinya setelah suaminya, Benjamin, melaporkan bahwa istrinya telah hilang.

Rabu 10 Februari 2021 sekitar sore hari waktu setempat, pasukan IDF dibantu oleh Polisi Perbatasan, mulai menghancurkan rumah dua lantai tempat tinggal pelaku bersama keluarganya.

Sangat jarang militer Israel melakukan pembongkaran rumah pada siang atau sore hari. Biasanya, pembongkaran dilakukan larut malam atau dini hari, karena penduduk di daerah tersebut cenderung tidak memprotes atau mengganggu.

Dilansir dari Times of Israel, foto-foto di tempat kejadian yang dibagikan di media sosial memperlihatkan pasukan bersenjata Israel menyebar ke seluruh Tura al-Gharbiya untuk melindungi para pekerja yang melakukan pembongkaran.

Belum ada penjelasan dari otoritas berwenang, mengapa IDF memilih melakukan pembongkaran rumah tersebut pada siang hari.

Militer Israel pertama kali mengumumkan rencana penghancuran rumah dua lantai milik Kabha sejak bulan lalu. Namun keluarganya mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi, untuk mencegah tindakan tersebut.

Panel yang terdiri dari tiga hakim mendukung rencana militer, dengan mengatakan bahwa meskipun dia belum dihukum, Kabha telah mengaku melakukan kejahatan dan ada bukti yang kuat dan obyektif untuk menguatkan pengakuannya.

Menurut badan keamanan Shin Bet, Kabha diduga melakukan serangan teror tersebut sebagai bentuk pembalasan atas kematian seorang narapidana keamanan, Kamel Abu Waer, yang meninggal karena kanker enam minggu sebelumnya.