Pasukan Suriah, Turki terlibat bentrokan berdarah di Idlib

Qaminas (AFP) - Pasukan Suriah dan Turki baku tembak pada Senin dalam bentrokan mematikan lainnya di barat laut Suriah, tempat hampir 700.000 orang melarikan diri seiring meningkatnya aksi kekerasan di benteng oposisi utama terakhir.

Turki, yang mendukung faksi pemberontak Suriah, mengatakan lima tentaranya tewas oleh tembakan rezim Suriah di Provinsi Idlib, dan pihaknya telah "menetralisir" 101 tentara Suriah sebagai balasan.

Tidak mungkin untuk memverifikasi klaim itu dan media pemerintah Suriah maupun Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, organisasi pemantau perang, tidak segera melaporkan korban dari tentara Suriah.

Baku tembak itu adalah yang kedua dalam delapan hari dan berlangsung di daerah Taftanaz, tempat Turki baru-baru ini mengirim pasukan, kata Observatorium yang berbasis di Inggris itu.

Penembakan rejim seminggu sebelumnya menewaskan delapan tentara Turki, yang mendorong aksi pembalasan mematikan oleh tentara Turki.

Bentrokan itu semakin membuat tegang hubungan antara Damaskus dan Ankara, sementara juga meningkatkan ketegangan antara Rusia dan Turki - pimpinan protagonis asing konflik.

Pasukan pemerintah Suriah yang didukung oleh Moskow telah menekan benteng pemberontak besar terakhir di barat laut Suriah selama lebih dari dua bulan.

Kekerasan di Provinsi Idlib dan Aleppo telah membuat 689.000 orang kehilangan tempat tinggal, kata David Swanson, juru bicara kantor koordinasi kemanusiaan PBB, OCHA.

"Jumlah orang yang terlantar dalam krisis ini sekarang berputar di luar kendali," katanya kepada AFP, Senin.

Eksodus adalah salah satu yang terbesar dari perang saudara sembilan tahun itu dan berisiko menciptakan salah satu bencana kemanusiaan terburuk dari konflik.

Ini telah memicu kewaspadaan dari Turki yang telah menampung sekitar 3,7 juta pengungsi Suriah dan khawatir akan peningkatan jumlah.

Kementerian pertahanan Turki mengatakan pasukan yang ditargetkan pada Senin telah dikirim "sebagai penguat ke wilayah tersebut dengan tujuan untuk mencegah bentrokan di Idlib, memastikan keamanan perbatasan kami, dan menghentikan migrasi dan tragedi manusia".

Kementerian memperingatkan bahwa Ankara akan menanggapi "dengan cara sekuat mungkin" untuk setiap serangan baru.

Dalam tanda meningkatnya ketegangan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Senin malam mengadakan pertemuan di Ankara dengan para menteri, kepala staf militer dan kepala intelijen untuk meninjau kembali situasi di Idlib, kata media setempat.

Sejak Jumat, konvoi besar kendaraan yang membawa pasukan komando, tank dan artileri howitzer telah memperkuat 12 pos militer Turki di Idlib yang dipasang oleh Ankara berdasarkan kesepakatan 2018 dengan Rusia untuk mencegah serangan rezim.

Tetapi perjanjian itu gagal menghentikan kemajuan pemerintah, dengan Turki mengatakan pasukan rezim telah mengepung tiga pos terdepan.

Fahrettin Altun, staf pers utama Erdogan, menulis di Twitter bahwa "Turki membalas serangan itu untuk menghancurkan semua sasaran musuh dan (membalas) pasukan kami yang gugur".

Erdogan telah memberi Damaskus sampai akhir bulan untuk mundur dari pos-posnya, dan mendesak Rusia untuk meyakinkan rezim untuk menghentikan serangannya.

Delegasi Rusia telah berada di Ankara untuk pembicaraan mengenai Idlib sejak Sabtu, dengan pertemuan lebih lanjut diharapkan pada hari Senin.

Kedua negara telah bekerja sama dengan erat meskipun mendukung pihak yang berseberangan.

Peningkatan ketegangan antara Turki dan Damaskus terjadi saat pemboman hebat oleh rezim Suriah dan Rusia menewaskan 16 warga sipil termasuk 8 anak-anak pada hari Senin di Provinsi Aleppo dan Idlib, kata Observatorium.

Korban itu termasuk enam anak di antara sembilan warga sipil yang kehilangan nyawa Senin pagi dalam serangan Rusia di desa Abin Semaan di Provinsi Aleppo, katanya.

Pasukan rezim yang didukung Rusia telah melakukan serangan sengit di provinsi itu untuk merebut kembali jalan raya utama, katanya.

Di lokasi penggerebekan, seorang petugas penyelamat membawa seorang remaja perempuan yang tewas dalam selimut tebal, sementara salah satu kerabatnya meminta mayat itu, kata seorang koresponden AFP.

Para sukarelawan menggigil dalam suhu yang hampir membeku menggali gundukan puing-puing, menyelamatkan seorang pria yang tertutup debu dan seorang anak yang telah terperangkap di bawahnya.

Serangan udara terbaru terjadi setekah malam pemboman besar-besaran oleh Rusia dan rezim yang telah menewaskan sedikitnya 20 warga sipil di kedua provinsi Idlib dan Aleppo, menurut Observatorium.

Sekitar setengah dari Provinsi Idlib, bersama dengan sebagian Provinsi Aleppo dan Latakia yang bertetangga tetap di luar kendali pemerintah.

Sekitar 50.000 petempur diperkirakan berada di kantong Yang menyusut, termasuk banyak petempur dari aliansi Hayat Tahrir al-Sham yang dominan, tetapi sebagian besar adalah sekutu pemberontak mereka, menurut Observatorium.

Sekitar tiga juta orang, setengah dari mereka sudah mengungsi setidaknya satu kali oleh kekerasan di tempat lain di Suriah, tinggal di daerah itu.