Pasukan Ukraina Pakai Bom Klaster, Senjata yang Dilarang Konvensi Internasional

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Awal Maret lalu sebuah hulu ledak dari bom klaster mendarat di samping rumah Yurii Doroshenko di sebelah timur Ukraina. Sejumlah serangan bom klaster menghujani desanya.

"Mereka menyerang dan mengenai jalanan," kata dia.

Serangan dengan bom klaster yang dilarang secara internasional berulang kali dilakukan oleh militer Rusia sejak menggelar operasi militer di Ukraina 24 Februari lalu. Kelompok pembela hak asasi mengecam penggunaan bom klaster. Para pemimpin negara Barat menyebut aksi itu kejahatan perang yang dilakukan Moskow.

Namun bom klaster yang mendarat di samping rumah Doroshenko bukan ditembakkan oleh pasukan Rusia. Berdasarkan bukti yang dikaji oleh the New York Times saat mengunjungi daerah itu, tampaknya bom ini dilepaskan oleh pasukan Ukraina yang ingin menguasai kembali wilayah tersebut.

Tak seorang pun tewas dalam serangan di Husarivka itu, daerah perkebunan yang dikelilingi ladang gandum dan jalur gas alam. Namun dua orang tewas ketika pasukan Ukraina menghujani desa itu untuk menyerang tentara Rusia.

Dilansir dari laman the New York Times, Senin(18/4), perang kini memasuki pekan kedelapan, kedua pihak masing-masing mengandalkan persenjataan kelas berat dan artileri serta roket untuk menekan pasukan musuh. Namun keputusan Ukraina yang menghujani desa mereka sendiri dengan klaster bom yang bisa serampangan membunuh warga sipil tak berdosa menjadi sorotan: mereka akan melakukan apa saja untuk menguasai kembali negara mereka, apa pun pengorbanannya.

Bom klaster adalah senjata yang memuat roket, bom, mortir dan artileri yang bisa membelah di udara dan melepaskan bom-bom kecil kecil di wilayah luas. Ancaman bahaya dari bom ini masih tinggi sampai bom yang tidak meledak diketahui lokasinya dan dijinakkan oleh ahli.

Konvensi Bom Klaster yang mulai berlaku pada 2010 melarang penggunaan senjata itu karena bisa melukai warga sipil tak berdosa tanpa pandang bulu. Kelompok pembela hak asasi mengatakan sekitar 20 persen atau lebih dari senjata itu gagal meledak tapi nantinya bisa meledak jika bom itu dipungut atau dipegang.

Lebih dari 100 negara sudah menandatangani konvensi itu, meski Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia belum.

"Tidak mengejutkan, tapi ini tentu mengecewakan mendengar ada bukti Ukraina kemungkinan sudah memakai bpm klaster dalam konflik ini," kata Mary Wareham, direktur advokasi divisi persenjataan Human Right Watch.

"Bom klaster adalah senjata yang tidak dapat dibenarkan yang membunuh dan melukai warga sipil di Ukraina."

Penasihat militer Ukraina dan Kementerian Pertahanan Ukraina menolak berkomentar soal kabar ini.

Pasukan Rusia mengambil alih Husarivka dari unit tentara Ukraina dalam beberapa hari awal Maret lalu. Roket Uragan berukuran 220 milinmeter yang mendarat di dekat rumah Doroshenko ditembakkan dari sebuah truk kendaraan militer berpeluncur dari jarak beberapa kilometer dan mengenai daerah itu pada 6 atau 7 Maret, kata Doroshenko. Pada waktu itu desa masih dikuasai pasukan Rusia.

Selama dikuasai Rusia, pasukan Ukraina melancarkan serangan tanpa henti dan sedikitnya dua bom klaster mendarat di sebuah ladang dekat rumah Doroshenko dan berjarak beberapa ratus meter dari markas pasukan Rusia.

Ketika roket yang ditembakkan itu mendekati ladang perekebunan, hulu ledaknya yang kemungkinan membawa 30 bom kecil akan terlepas dari motor pendorong roket, membuka dan melepaskan bom-bom kecil itu di kawasan sekitarnya.

Bom kecil ini masing-masing kekuatannya setara kira-kira 11 ons TNT, hampir dua kali dari daya ledak granat tangan yang standar.

Serangan ke Husarivka tampaknya menjadi yang pertama penggunaan bom klaster oleh pasukan Ukraina sejak operasi militer Rusia ke negara itu. Pada 2015 pasukan Ukraina memakai bom klaster dalam perang melawan pasukan separatis dukungan Rusia di wilayah timur.

Ketika diberitahu tentang kemungkinan pasukan Ukraina yang melepaskan bom klaster ini, Doroshenko, 58 tahun, tampak acuh.

"Entahlah," kata dia. "Yang terpenting setelah serangan roket bom klaster itu orang-orang masih hidup." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel