Pat Gulipat Sapi Kurus Habiskan Biaya Pakan Miliaran di Aceh

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Aceh - Polda Aceh melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus memeriksa sejumlah pihak terkait penyelidikan sapi kurus di Dinas Peternakan Provinsi Aceh.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh Kombes Pol Margiyanta di Banda Aceh, Jumat, mengatakan penyelidikan kasus tersebut terus berlanjut.

"Tim penyidik sudah memeriksa lebih dari delapan orang yang merupakan pihak terkait sapi kurus di Dinas Peternakan Aceh," kata Kombes Pol Margiyanta.

Kasus sapi kurus di unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Dinas Peternakan Aceh mencuat ke publik pada Juni 2020. Padahal, anggaran pakan untuk ratusan sapi di UPTD tersebut mencapai miliaran rupiah.

Kombes Pol Margiyanta menyebutkan pihak-pihak yang diperiksa dan dimintai keterangan di antaranya rekanan pengadaan, penyedia jasa, panitia pengadaan, dan lainnya.

Perwira menengah Polri itu menyebutkan penyelidikan kasus tersebut tidak hanya di Aceh, tetapi juga di sejumlah tempat di Pulau Jawa, di mana sapi tersebut didatangkan.

"Kemarin, kami sudah ke Bekasi, meminta keterangan penyuplai dan petugas kesehatan hewan. Sebab, sapi kurus tersebut didatangkan dari Bekasi," kata Kombes Pol Margiyanta.

Demi Sapi, Polisi Bergerak ke Banyuwangi

Peternakan sapi di Cilacap sudah mempersiapkan hewan kurban siap jual menjelang Hari Raya Idul Adha 1438 H. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo).
Peternakan sapi di Cilacap sudah mempersiapkan hewan kurban siap jual menjelang Hari Raya Idul Adha 1438 H. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo).

Selain di Bekasi, tim penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh juga akan bergerak ke Banyuwangi, Jawa Timur, untuk menelusuri asal sapi kurus tersebut.

"Tim penyidik akan ke Banyuwangi untuk menggali informasi dengan memintai keterangan sejumlah pihak terkait pengadaan sapi kurus tersebut. Kami menegaskan penyelidikan kasus ini terus berlanjut," kata Kombes Pol Margiyanta.

Sebelumnya, pada Juni 2020, Kepala Dinas Peternakan Aceh Rahmandi menyatakan sapi karantina yang diberitakan kurus dan kurang gizi akan dilipatgandakan makanannya dan akan normal kembali.

“Persediaan pakan hijau masih mencukupi dan akan ditambah porsi makannya 2 – 3 kali lebih banyak dari porsi biasa agar lebih gemuk dan normal kembali,” katanya di Banda Aceh, dikutip Antara.

Pernyataan itu disampaikannya usai meninjau kondisi sapi di area karantinanya, di Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Inseminasi Buatan dan Inkubator Kader Peternakan Saree.

Ia menjelaskan dengan penanganan intensif dengan asupan pakan hijau dan pakan konsentrat, dalam waktu 2-3 bulan ke depan sapi-sapi tersebut akan normal kembali, katanya.

“Kita akan memberikan asupan makanan dan gizi yang lebih tinggi porsinya agar sapi-sapi itu normal kembali,” katanya.

Menurut Rahmandi, persediaan pakan hijau masih mencukupi untuk menambah posi makanan sapi-sapi tersebut.

Pihaknya juga sedang melakukan perubahan anggaran untuk pengadaan konsentrat. Harga konsentrat saat ini sudah tidak sesuai lagi dengan estimasi saat perencanaan dilakukan, maka perlu dilakukan koreksi dan penyesuaian dalam perubahan anggaran.

Simpang Siur Informasi Sapi Kurus

Rahmandi tidak menapik ada sejumlah sapi di area karantina Saree itu terlihat kurus. Ia juga mengapresiasi kritik masyarakat untuk perbaikan kinerja Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) yang dipimpinnya.

Kritikan tersebut merupakan cemeti bagi diri dan aparaturnya di Dinas Peternakan Aceh, untuk meningkatkan kinerja dan rajin memonitor kondisi di lapangan, termasuk di area karantina sapi di Saree itu.

Ia mengatakan ada yang perlu kami klarifikasi supaya masyarakat menerima informasi yang utuh dan tidak terjadi bias. Luas UPTD Sareesekitar 19 hektar dan di dalamnnya terdapat 490 ekor sapi, yang menempati beberapa areal dan kandang. Masing-masing kandang ini beda peruntukannya.

Di sisi areal karantina ada kandang untuk sapi betina indukan. “Jika kita lihat secara fisik, sapi betina ini juga kurus. Jadi, tidak semua sapi kurus itu bermasalah. Sapi-sapi betina indukan justru bermasalah bila kegemukan,” kata Rahmandi.

Nurlaila Wati Staf pengajar Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMK-PP) Negeri Saree yang diperbantukan di UPTD Saree itu menjelaskan, sapi betina indukan yang sedang dalam proses kehamilan berat tubuhnya harus ideal dan dijaga.

“Sapi betina indukan yang sedang dalam proses kehamilan, baik secara alami maupun inseminasi buatan memang tidak boleh gemuk, agar proses pembuahan tidak terganggu,” ujar Nurlaila Wati.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRA Yahdi Hasan yang juga berada di UPTD Peternakan Saree mengatakan, kondisi sapi di area karantina itu juga menjadi perhatian lembaganya.

Yahdi mengaku ditugaskan Ketua DPRA untuk turun ke lapangan. Yahdi mengatakan upaya pemulihan sapi-sapi ini harus segera dilakukan.

Yahdi mendorong Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Peternakan Aceh, mengambil langkah cepat.

Simak Video Pilihan Berikut Ini: