Patung Raksasa Senilai Ratusan Miliar Rupiah Ini Tuai Kontroversi, Ada Apa?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Wilayah Jianhe di Provinsi Guizhou tengah jadi sasaran kritik, baru-baru ini. Terlepas dari minimnya kesejahteraan penduduk setempat, pihak berwenang malah menghabiskan 86 juta yuan (Rp188 miliar) untuk mendirikan patung raksasa setinggi 88 meter sebagai bagian dari penggerak pengembangan pariwisata.

Melansir laman AsiaOne, Sabtu, 24 Oktober 2020, proyek tersebut telah memicu kekhawatiran pemborosan dan penyalahgunaan dana bantuan kemiskinan. Konten mengangkat narasi sebuah daerah miskin di Guizhou telah menghabiskan banyak uang untuk sebuah patung telah ditonton 4,32 juta kali di layanan mikroblog, Sina Weibo.

Seorang pengguna menuliskan, ikon budaya tak perlu mahal dan uangnya bisa digunakan untuk meningkatkan kehidupan warga sekitar secara lebih konkret. Kendati, beberapa orang membela proyek tersebut dengan alasan, patung raksasa itu telah memperkuat profil daerah pegunungan yang tak cocok untuk industri, selain pariwisata.

Otoritas lokal juga menepis kekhawatiran tersebut dengan mengatakan, pengawasan penggunaan dana bantuan telah ditingkatkan dalam tiga tahun terakhir. Pembangunan Patung Yangesha, dewi yang disembah komunitas etnis Miao setempat, dimulai pada akhir 2016 dan selesai tahun berikutnya sebagai bagian dari resor pemandian air panas, serta taman hiburan Yangesha.

Berdasarkan data pemerintah daerah, kompleks rumah patung raksasa itu berada telah menghasilkan pendapatan pariwisata lebih dari 20 juta yuan (Rp44 miliar) sejak dibuka untuk umum pada 1 Oktober 2017. Rata-rata dikunjungi seribu pengunjung setiap hari.

Jianhe termasuk di antara 832 daerah tingkat kabupaten yang dicap pemerintah pusat sebagai daerah miskin. Tingkat kemiskinan lokal sebesar tiga persen atau lebih. Tapi, wilayah tersebut telah menghapus label itu pada bulan Maret karena kemajuan dalam kampanye antikemiskinan.

Bukan Kali Pertama

Orang-orang dari etnis minoritas Miao membawa persembahan ketika mereka menghadiri upacara pengorbanan untuk dewa gunung di Jianhe di provinsi Guizhou barat daya China (15/4). (AFP Photo/China Out)
Orang-orang dari etnis minoritas Miao membawa persembahan ketika mereka menghadiri upacara pengorbanan untuk dewa gunung di Jianhe di provinsi Guizhou barat daya China (15/4). (AFP Photo/China Out)

Otoritas setempat tercatat mulai memanfaatkan nilai budaya dan pariwisata Dewi Miao sejak 2007 dengan menampilkan Yangesha dalam kampanye publisitas. Patung-patung besar telah lama digunakan untuk menampilkan budaya lokal atau membentuk landmark guna menarik wisatawan.

Tapi, beberapa proyek telah memicu kontroversi karena dianggap boros atau tak selaras dengan pemandangan alam. Misal, otoritas perencanaan kota di Jingzhou, Provinsi Hubei, ditempatkan di bawah pengawasan awal bulan ini atas patung setinggi 57 meter dengan berat 1,2 ribu ton di area kota kuno.

Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan Tiongkok mendesak pemerintah kota mengambil langkah-langkah memperbaiki masalah, termasuk fondasi patung yang runtuh dan pengaruh tak menguntungkan.

Patung itu menggunakan Guanyu, seorang jenderal legendaris yang kalah dalam pertempuran terkenal selama periode Tiga Kerajaan (220-280), sebagai model.

Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: