Paus 14 Meter Mati, Petugas Bingung Mengurus Bangkainya

Liputan6.com, Asahan Bangkai paus berbobot 20 ton berwarna hitam ditemukan di perairan‎ Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut). Mamalia tersebut sebelumnya terdampar di perairan dangkal, tepatnya di Pantai Silo Baru, Desa Silo Baru, Kecamatan Silau Laut.

Kepala Bidang (Kabid) Penanganan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Asahan‎, Tomy mengatakan, ikan paus berwarna hitam itu pertama kali ditemukan nelayan pada Rabu, 8 Januari 2019, sekitar pukul 11.00 WIB. Saat ditemukan, hewan berukuran sekitar 14 meter tersebut dalam kondisi tampak lemas.

"Oleh nelayan, ikan paus digiring ke tengah laut menggunakan kapal tradisional. Namun karena kondisinya sudah lemas, saat ini ikan paus sudah mati," kata Tomy, Minggu (12/1/2020).

Diungkapkan ‎Tomy, pihaknya akan melakukan penyeledikan penyebab kematian ikan paus. Untuk sementara, diduga kematian ikan paus tersebut akibat dehidrasi karena berada di lokasi perairan dangkal dan bukan habitat asli.

"Seperti itu (dugaan sementara) kita, mati akibat dehidrasi," Tomy mengungkapkan.

Pihak Pemerintah Kabupaten Asahan melakukan koordinasi melalui tim gabungan dari ‎Dinas Perikanan dan Kelautan, Lanal Tanjung Balai, dan Polisi Air untuk tindak lanjut terhadap bangkai ikan paus.

"Apakah bangkai paus itu dievakuasi atau dibiarkan saja. Misalnya ditenggelamkan, dikubur, atau dibakar. Kita lihat situasi, kemungkinan ditenggelamkan," kata Tomy.

 

Bikin Bingung

warga desa Tolotio berusahaa mengevakuasi bangkai Paus yang terdampaar pada Sabtu 4 Januari 2020. (Foto: Istimewa/Andri Arnold)

Kepala Desa Silo Baru, Ahmad Sofyan menyebut, saat ini bangkai ikan paus masih berada di laut dikarenakan petugas kesulitan mengevakusi. Pihaknya menunggu kabar dari institusi terkait bangkai ikan paus.

“Kalau ditenggelamkan, harus ada pemberat tiga kali lipat dari bobot ikan. Atau menarik ke daratan dan dikubur, ini juga belum bisa dilakukan,” ujarnya.

Menurut Sofyan, opsi lain membiarkan bangkai membusuk di laut, alasanya karena lokasi bangkai masih jauh dari pemukiman penduduk. Pihaknya juga sudah mengimbau kepada para nelayan untuk menjauhi bangkai ikan paus.

“Kita khawatir ada bakteri dan penyakit yang terbawa oleh bangkai paus. Di dalam perut paus itu gas, dan akan membuat ledakan di dalam perut,” Sofyan menuturkan.

Sofyan juga mengatakan, ada satu penanganan yang sebenarnya bisa dilakukan, yakni membakar bangkai ikan paus di laut. Namun, hal ini masih melalui proses diskusi dinas terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Asahan, BKSDA, serta dan institusi lainnya.

“Masih proses, bangkai masih di laut,” Sofyan menandaskan.

Simak video pilihan berikut: