Paylater Bantu Pengguna Mengatur Keuangan Jangka Panjang

Krisna Wicaksono, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Lembaga Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menyampaikan, layanan paylater (bayar nanti) dalam platform keuangan digital membantu konsumen mengatur arus kas (cash flow) di masa pandemi.

"Layanan paylater bukan hanya soal instrumen pembayaran. Kehadiran layanan itu membantu konsumen mengatur arus kas lebih baik terutama di masa pandemi, konsumen bisa lebih leluasa mengatur budgeting dan merencanakan keuangan jangka panjang, termasuk menabung," ujar Ketua Tim Peneliti RISED, Rumayya Batubara di Jakarta, dikutip Kamis 11 Februari 2021.

Rumayya yang juga Ekonom Universitas Airlangga menambahkan, layanan paylater banyak ditawarkan oleh platform digital, yang bekerja sama dengan pihak ketiga penyedia layanan cicilan.

Ia menyebutkan, lebih dari 15 layanan e-commerce serta aplikasi on-demand yang menyediakan layanan itu, di antaranya Kredivo, Shopee Paylater, Traveloka, Gojek, Grab, dan Tokopedia.

Menurut dia, ada dua faktor utama yang mendorong masyarakat semakin memanfaatkan layanan paylater, yakni keamanan dan kenyamanan.

Ia menyampaikan, hasil survei terbaru RISED menemukan sebesar 92 persen responden menyatakan layanan paylater bermanfaat untuk mengelola pengeluaran dan arus kas.

Ia mengatakan, penggunaan layanan paylater sebelum dan selama pandemi COVID-19 juga berubah.

Dikemukakan, terjadi peningkatan intensitas penggunaan layanan itu sebelum dan selama pandemi. Di mana, peningkatan tersebut sebesar 22,52 persen bagi pengguna yang tergolong sangat sering dan sebesar 7,2 persen bagi pengguna yang tergolong sering menggunakan layanan paylater.

Dalam survei itu juga menemukan bahwa lebih dari 94 persen responden percaya pada jaminan perlindungan konsumen dan keamanan siber yang disediakan oleh penyedia layanan, apabila telah terdaftar atau mendapatkan izin dari OJK.

Survei itu dilakukan kepada 2.000 responden di 10 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan pada bulan Oktober 2020.

"Meningkatnya konsumsi domestik di platform digital akan mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, sekaligus mendukung pemulihan ekonomi yang bergantung pada domestic spending," kata Rumayya. (ant)