PBB: 6 Juta Warga Afghanistan Terancam Kelaparan

Merdeka.com - Merdeka.com - Semenjak Taliban berkuasa Afghanistan, berbagai negara menghentikan bantuan mereka kepada negara itu agar tidak jatuh ke tangan Taliban. Namun, penghentian ini justru mendorong ancaman kelaparan bagi rakyat Afghanistan.

Dikutip dari laman Aljazeera, Selasa (30/8), Martin Griffiths, Kepala Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyatakan enam juta warga Afghanistan terancam kelaparan di tengah krisis yang sedang terjadi di negara itu.

Kepada Dewan Keamanan PBB (DK PBB), Griffiths turut mengatakan "Afghanistan mengalami berbagai krisis, antara lain krisis kemanusiaan, ekonomi, iklim, kelaparan dan finansial". Masalah lain, seperti konflik tak kunjung henti, perubahan iklim, dan kerawanan pangan turut menambah krisis di Afghanistan.

Griffiths menjelaskan penghentian bantuan skala besarlah yang menempatkan Afghanistan di keadaan kritis.
Griffiths mengatakan negara-negara di dunia harus segera menyediakan dana sebesar USD 770 juta atau Rp. 11,4 triliun untuk membantu Afghanistan.

"Kemiskinan semakin parah, populasi masih bertambah, dan pemerintah de facto tidak memiliki anggaran untuk berinvestasi bagi masa depan mereka sendiri. Jelas bagi kami beberapa bantuan pembangunan harus kembali dimuali," tutur Griffiths.

Lebih dari separuh penduduk Afghanistan yang berjumlah 39 juta membutuhkan bantuan kemanusiaan dan enam juta lainnya terancam kelaparan.

"Pemerintah de facto Afghanistan juga harus melakukan peran mereka. Campur tangan dan prosedur birokrasi memperlambat bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. Pekerja bantuan kemanusiaan perempuan harus diizinkan bekerja tanpa hambatan dan aman. Dan anak perempuan harus diizinkan untuk melanjutkan pendidikannya" jelas Griffiths.

Griffiths mengungkapkan dana sebesar USD 614 juta atau Rp. 9,1 triliun diperlukan sebelum musim dingin tiba. Dana itu akan digunakan untuk memperbaiki tempat penampungan serta penyediaan pakaian hangat.

Dana tambahan lain sebesar USD 154 juta atau Rp. 2,2 triliun juga diperlukan untuk bahan-bahan makanan dan barang-barang lain.

Sebelumnya sejak Taliban berkuasa, miliaran dolar dalam bank sentral Afghanistan dibekukan oleh pemerintah lain, termasuk oleh Amerika Serikat (AS).

Negara-negara lain, seperti Rusia dan China menuduh AS dengan sengaja meninggalkan dan melepas tanggung jawab mereka dari Afghanistan.

Duta Besar Rusia kepada PBB, Vassily Nebenzia mengatakan "apa yang dilakukan oleh AS dan sekutunya adalah menghadapkan warga Afghanistan pada kehancuran, kemiskinan, terorisme, kelaparan dan tantangan lainnya".

Zhang Jun, Duta Besar China untuk PBB menyatakan "AS dan sekutunya menghindari tanggung jawab dan meninggalkan warga Afghanistan".

Jika warga Afghanistan tidak mendapatkan bantuan dari negara lain, maka krisis-krisis lain akan menimpa warga Afghanistan yang sebelumnya telah tertimpa berbagai masalah.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]