PBB: Dunia Sedang Menuju ke Arah yang Salah

Merdeka.com - Merdeka.com - Dalam laporan terbarunya, PBB menyatakan dunia sedang menuju ke arah yang salah akibat perubahan iklim.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyinggung soal bencana seperti banjir di Pakistan, gelombang panas di Eropa, kekeringan di China, Tanduk Afrika dan Amerika Serikat, dan "kecanduan" bahan bakar fosil yang menunjukkan adanya perubahan iklim.

Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan "bencana yang berhubungan dengan cuaca telah meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir dan membunuh rata-rata 115 orang per hari."

Dilansir laman AP News, Selasa (13/9), pengeluaran senilai USD 200 juta atau Rp. 2,9 triliun setiap harinya oleh negara-negara pun juga tidak mampu untuk menghentikan perubahan iklim.

"Tidak ada yang alami mengenai skala baru dari bencana ini. Itu adalah harga dari kecanduan bahan bakar fosil manusia," ungkap Guterres.

"Laporan United in Science tahun ini menunjukkan dampak iklim menuju ke wilayah kehancuran yang belum dipetakan," ujar dia.

"Namun setiap tahun kita menggandakan kecanduan bahan bakar fosil ini, bahkan ketika gejalanya memburuk dengan cepat," lanjutnya.

Dalam laporan itu, PBB juga menyatakan terdapat peluang 48 persen suhu global akan naik sebesar 1,5 derajat Celcius dibanding sebelum masa industri. Bahkan, ada kemungkinan sebesar 93 persen dalam lima tahun ke depan, dunia akan mencapai titik terpanasnya.

Negara-negara di dunia turut bekerja sama untuk menanggulangi perubahan iklim, seperti mengikuti Kesepakatan Iklim Paris 2015.

Kerja sama itu menghasilkan buah baik di mana angka kematian akibat bencana alam menurun tiap tahunnya. Tetapi, biaya ekonomi dari bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim diperkirakan akan meningkat tajam.

Namun kabar baiknya adalah laporan itu juga mengungkapkan kerugian dan kerusakan dapat dibatasi dengan tindakan yang tepat waktu.

Sebab itu, negara-negara dunia akan kembali berkumpul di Mesir pada musim gugur nanti untuk membahas mengenai perubahan iklim, terutama berbicara tentang negara-negara miskin yang harus menderita akibat emisi karbon negara-negara kaya.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]