PBB menyerukan 'upaya berkelanjutan' melawan penyelundupan sumber daya alam Kongo

PBB (AFP) - Dewan Keamanan PBB pada Kamis menyerukan "upaya berkelanjutan" dalam mencegah perdagangan ilegal sumber daya alam Republik Demokratik Kongo karena emas pada khususnya menjadi pemicu konflik antar kelompok bersenjata di kawasan itu.

Ke-15 negara anggota Dewan juga memperbarui sanksi PBB kepada negara itu untuk periode satu tahun yang membuat perseorangan maupun kelompok menjadi sasaran sanksi itu.

Dalam sebuah pernyataan setelah konferensi video, DK PBB mengungkapkan keprihatinan atas "berlanjutnya eksploitasi ilegal dan perdagangan sumber daya alam" sembari menyerukan "upaya berkelanjutan dalam mencegah" praktik semacam itu.

Para pakar PBB yang memantau implementasi sanksi tersebut mengungkapkan banyak kasus perdagangan manusia dalam sebuah laporan baru-baru ini, yang menyatakan bahwa emas dari negara itu mengalir ke Uganda, Burundi, Rwanda, Uni Emirat Arab dan Tanzania.

Dokumen tersebut menetapkan bahwa Uni Emirat Arab berjanji memperketat kendali atas sumber emas yang tiba di negara itu.

"Kelompok itu menelusuri emas Kongo ke pendulangan-pendulangan regional dan destinasi-destinasi internasional lainnya serta mendapati bahwa bahwa beberapa pendulangan bertindak sebagai pialang, menggunakan pembayaran tunai, melakukan perdagangan pendulangan satu ke pendulangan lainnya dan menggunakan jejaring korporat untuk mengaburkan kepemilikan sehingga menghambat akuntabilitas rantai pasokan," kata laporan itu.

"Para pedagang emas juga menghindari penggunaan jaringan perbankan formal," kata laporan itu lagi.

Para pakar menambahkan bahwa "dalam hal sumber daya alam, sektor emas Kongo tetap rentan dari eksploitasi oleh kelompok-kelompok bersenjata dan jaringan kriminal dan terhadap perdagangan gelap."

Volume emas yang diselundupkan dari negara itu secara signifikan lebih tinggi dari jumlah yang diperdagangkan secara legal, kata mereka.

Republik Demokratik Kongo menduduki tempat teratas negara dengan cadangan sangat besar untuk kobalt, tembaga, emas dan mineral berharga lainnya, tetapi tetap saja menjadi salah satu negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita rata-rata 490 dolar AS, menurut data Bank Dunia.


prh/bfm/caw/