PBNU Dukung KPK Buka Lagi Kasus Kardus Durian

Merdeka.com - Merdeka.com - Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imron Rosyadi Hamid mendukung Ketua KPK Firli Bahuri membuka kembali dugaan tindak pidana korupsi kardus durian. PBNU siap mengawal KPK mengusut kasus lama yang menjadi perhatian.

"PBNU mempersilakan dan siap mengawal KPK untuk memeriksa kembali kasus-kasus lama yang menjadi perhatian publik karena korupsi merupakan ekstra ordinary crime yang merugikan rakyat," ujar Imron dalam keterangannya, Jumat (28/10).

KPK diminta tidak tebang pilih kasus lama yang menjadi perhatian publik. Imron lantas membandingkan kasus yang menjerat Mardani Maming. Kasus Maming lebih lama terjadi dibandingkan kasus durian.

"KPK tidak boleh tebang pilih dalam memeriksa kasus-kasus lama yang menjadi perhatian publik karena apa yang dilakukan KPK terhadap kasus Tanah Bumbu yang menjerat saudara Maming jauh lebih dulu terjadi (2011) daripada kasus Kardus Durian (2014) sehingga tidak ada alasan bagi KPK untuk memberikan perlakuan berbeda," ujarnya.

PBNU akan memberi dukungan kepada KPK untuk melakukan pemberantasan dan pencegahan kasus korupsi. "PBNU akan selalu memberikan dukungan kepada semua penegak hukum, termasuk KPK dalam rangka memberantas dan melakukan pencegahan terhadap kejahatan korupsi," tutupnya.

Diduga Seret Nama Cak Imin

Diberitakan, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri kembali menyinggung kasus kardus durian yang diduga menyeret Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Firli menyebut kasus tersebut masih menjadi perhatian institusinya hingga saat ini.

"Perkara lama yang disebut kardus durian ini juga menjadi perhatian kita bersama," ujar Firli dalam keterangannya, Jumat (28/10).

Firli meminta masyarakat terus mengawal penanganan kasus tersebut. Purnawirawan jenderal polisi bintang tiga ini berjanji pihaknya bakal terbuka dalam tahapan pengembangan kasus ini.

"Tolong kawal KPK, ikuti perkembangannya. KPK pastikan setiap perkara pasti disampaikan kepada rekan-rekan semua," kata Firli. [tin]