PBNU Kecam Tragedi Kemanusiaan Rakyat Mesir

Jakarta (Antara) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Siradj mengecam keras tindakan represif militer Mesir terhadap rakyatnya terlebih telah menewaskan lebih dari 400 demonstran di Negeri Piramida itu.

"Kami mengecam keras tindakan pembunuhan massal itu sebagai akibat dari kebuntuan politik di Mesir. Tidaklah perlu menunjuk siapa yang benar dan salah yang jelas di sana ada pelanggaran hak asasi manusia dan harus diakhiri dengan cara yang bermartabat," kata Said Agil melalui telepon yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurutnya, Mesir adalah salah satu negara Muslim tertua di dunia. Di negara itu kebudayaan Islam berkembang dengan baik terutama melalui berdirinya Universitas Al Azhar, banyaknya pemikir, guru besar dan ulama.

"Muslim terhadap Muslim lainnya itu ibarat satu jasad. Apabila salah satu bagian tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya ikut merasakannnya," kata dia. Dia mengatakan bahwa setiap Muslim harus menunjukkan solidaritasnya dengan berbagai bentuk sekurang-kurangnya melalui doa.

Tragedi kemanusiaan di Mesir mulai pecah ketika militer negara itu berusaha membubarkan kamp demonstran Ikhwanul Muslimin pendukung presiden terguling, Muhamed Morsi.

Akan tetapi, jalan yang ditempuh pemerintah Mesir terlalu represif terbukti dengan tewasnya lebih dari 400 demosntran di tangan militer. Sementara itu, Ikhwanul Muslimim mengklaim korban tewas mencapai tiga ribu orang.

Sejarawan Bonnie Triyana mengatakan pembantaian warga Mesir oleh militer negeri itu tidak hanya mencakup dimensi agama tapi lebih kepada pelanggaran nilai kemanusiaan. "Jangan hanya melihat setiap penghilangan nyawa terutama dalam jumlah yang besar itu dipandang dari sisi suku, agama dan ras. Akan tetapi, yang lebih universal adalah sisi kemanusiaan. Dengan kata lain, pemerintah Mesir sedang melakukan pelanggaran hak asasi manusia," kata dia.

Bebrbicara masalah perjalanan terkini dari demokrasi di Negeri Piramida itu, Bonnie mengatakan tidak setuju dengan proses kudeta di Mesir. Alasannya, kudeta mengingkari nilai-nilai substasial dari demokrasi. "Suksesi dalam demokrasi itu memiliki prosedural yang elegan dengan pemilihan umum bukan dengan kudeta," kata dia. (04/and)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.