PBNU: Vaksin AstraZeneca Suci, Boleh Dipakai Baik Normal atau Darurat

Syahrul Ansyari, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan vaksin COVID-19 dari AstraZeneca suci sehingga dapat disuntikkan kepada masyarakat Indonesia. Atas pertimbangan itu, PBNU menilai vaksin asal Inggris boleh dipergunakan dan diterima oleh tubuh, baik dalam kondisi normal maupun darurat.

Hal ini berdasarkan hasil forum diskusi ilmiah atas pengambilan keputusan yang berdasarkan pertimbangan dari berbagai ilmu dan hukum Islam atau disebut Bahtsul Masail. Oleh Lembaga Bahtsul Masail PBNU pandangan itu tercantum dalam Nomor 01 tahun 2021 tentang Pandangan Fikih Mengenai Penggunaan Vaksin AstraZeneca.

"Dapat disimpulkan bahwa vaksin AstraZeneca adalah mubah (boleh) digunakan bukan hanya karena tidak membahayakan melainkan juga karena suci," kata Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU Nadjib Hassan melalui siaran persnya, Selasa, 30 Maret 2021.

"Dengan demikian, vaksin AstraZeneca pboleh disuntikkan ke dalam tubuh manusia meskipun dalam kondisi normal, apalagi dalam kondisi darurat," lanjutnya.

Baca juga: Kiai Marsudi: Fatwa NU Bolehkan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca

Dalam forum Bahtsul Masail disebutkan juga AstraZeneca menjelaskan bahwa seluruh proses pembuatan vaksin yang dilakukan tidak memanfaatkan bahan dari unsur babi.

Namun, proses pengembangan sel HEX293 oleh Thermo Fisher memanfaatkan antitripsin dari unsur babi yang berfungsi memisahkan sel inang dari pelat atau media pembiakan sel, bukan sebagai campuran bahan atau bibit sel.

Disebutkan, pelepasan sel inang dalam proses produksi vaksin AstraZeneca tidak lagi menggunakan tripsin dari babi, melainkan dengan menggunakan enzyme TrypLE TM Select yang dibuat dari bahan yang berupa jamur.

"Kemudian, dilakukan proses sentrifugasi untuk mengendapkan sel dan memisahkan dari medianya," ujar Nadjib.

Nadjib memaparkan, dari proses panjang tersenut maka sel yang diendapkan tadi ditambahkam media pertumbuhan baru tidak mengandung tripsin babi.

"Dengan penjelasan itu, maka dapat dikatakan bahwa pemanfaatan tripsin dari unsur babi yang dilakukan Thermo Fisher diperbolehkan karena di-ilhaq-kan pada rennet yang najis yang digunakan dalam proses pembuatan keju (al-infahah al-mushlihahlil jubn)," tutur Nadjib.

Kemudikan, lanjut Nadjib, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama bertujuan untuk ishlah. Oleh sebab itu, maka pemanfaatan semacam ini tergolong ma’fu (ditoleransi) sehingga sel yang dihasilkan tetap dihukum suci.

Pada tahap selanjutnya, pembuatan bahan aktif vaksin skala besar dilakukan dengan cara menginfeksikan sel inang dengan bibit adenovirus dalam media berbasis air.

Tahapan ini berguna untuk memastikan bahwa telah terjadi penyucian (tathhir) secara sempurna jika dalam proses sebelumnya dianggap ada unsur yang bersentuhan dengan najis, yaitu tripsin babi.

"Tentang najis babi, forum bahtsul masail mengikuti pendapat rajih menurutal-Imam al-Nawawi yang menyatakan bahwa penyucian barang yang terkena najis babi cukup dibasuh dengan satu kali basuhan tanpa menggunakan campuran debu atau tanah," katanya.