PBSI Marah, Ini Bukti Tuntutan Indonesia Tak Berarti Bagi BWF

Ridho Permana
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kisruh All England belum selesai, meski Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) sudah meminta maaf.

Kisruh All England memasuki babak baru. Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Indonesia (PP PBSI) marah dan masih merasa tak puas dengan permintaan maaf BWF itu.

Ketua Umum PBSI, Agung Firman Sampurna menegaskan, pihaknya mengapresiasi permintaan maaf dari BWF, namun persoalan substansinya harus diungkap.

"Harus ada kejelasan. Permintaan maaf itu kami apresiasi, langkah BWF untuk mereka meminta maaf Itu secara formal," ujar Agung dalam sebuah program televisi swasta, Rabu malam 24 Maret 2021.

Agung pun menjelaskan hal substansi yang perlu dijawab BWF, terutama soal proses tujuh orang wakil Denmark, Thailand dan India yang positif COVID-19, tiba-tiba negatif dalam 24 jam.

"Ada ada masalah substansinya itu harus dijelaskan. Tetap dibutuhkan kejelasan, secara umum di surat itu ada kesalahan dalam penyelenggaraan ini, apa? Agar tak terjadi ke depan," ucap Agung.

Begitu juga soal perlakuan terhadap atlet Indonesia yang diusir, jalan kaki dan tidak disediakan bus.

"Kami tidak menyangka diperlakukan seperti ini, yang kami sayangkan perlakuan BWF ke Indonesia. Ada 7 positif bisa main, sementara atlet disuruh jalan kaki, dan diisolasi," tegasnya.

Indonesia Ultimatum BWF

Sebelumnya, manajer tim bulutangkis Indonesia, Ricky Subagja sempat mengupdate kabar pasca didepaknya dari All England.

Ricky menegaskan ultimatum Indonesia untuk BWF sebelum meninggalkan Inggris. Mengingat perlakuan buruk panitia yang diterima selama di sana.

Ricky membeberkan beberapa catatan yang disuarakan para atlet dan seluruh ofisial Indonesia.

Menurut Ricky, beberapa permintaan Indonesia antara lain, seluruh tim dan pebulutangkis negara peserta yang berlaga dikarantina. Atau, All England diminta setop.

“untuk kekecewaan ketidakikutsertaan, kami sangat marah dan kesal. Usai Ahsan/Hendra main kami digiring ke luar lapangan dan disuruh saat itu balik ke hotel tanpa disediakan bus,” ujar Ricky.

"Layaknya seluruh pebulutangkis dilakukan karantina, atau All England diminta berhenti. Ini harapan atlet, harapan tim," tegasnya.

Hal yang paling penting, karena Indonesia tak bisa bertanding dan adilnya jika All England tetap dilanjutkan hingga selesai, itu tak menjadi poin untuk peringkat dunia.

"Mudah-mudahan ini melalui BWF, menjelang olimpiade, kami berharap All England tidak berlaku poin, atau All England ini tidak ada poin. Ya semoga tidak dihitung," kata dia.

Faktanya, BWF sama sekali tak mempertimbangkan ataupun mendengar permintaan Indonesia. All England berlanjut bahkan lahir juara baru di sana.

Indonesia pun pulang dibantu KBRI London. Mereka disambut bak pahlawan, tapi tetap saja pulang tanpa bertanding.

Berikut isi surat lengkap permintaan maaf BWF untuk Indonesia:

"Yang Terhormat Bapak Zainudin Amali, bersama ini saya dengan hormat ingin menyampaikan penyesalan dan kekecewaan saya atas keadaan minggu lalu di YONEX All England Open 2021.

Saya dengan tulus meminta maaf kesusahan dan frustrasi yang ditimbulkan kepada para pemain dan tim Indonesia. Atas nama seluruh Keluarga BWF, saya ingin berbagi perasaan ini dengan Yang Mulia Bapak Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, Menteri Pemuda dan Olahraga, Menteri Luar Negeri, Duta Besar untuk Inggris Raya, Pejabat Pemerintah, Presiden PBSI dan Pejabat, Rakyat Indonesia, dan khususnya komunitas dan basis fans bulutangkis Indonesia yang lebih luas.

Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) menyadari sepenuhnya bahwa Indonesia adalah salah satu negara raksasa dunia bulutangkis, dengan banyak bintang bulutangkis berbakat kelas dunia yang dihasilkan. BWF juga menyadari bahwa pemain bulutangkis Indonesia adalah ikon nasional dan membawa harapan besar negara mereka di panggung internasional.

Ketika saya masih bermain untuk Tim Nasional Denmark, saya merasakan hubungan timbal balik yang hangat dengan pemain dan ofisial Indonesia. Saya juga menghadiri Asian Games 2018, dan bangga melihat keberhasilan panitia penyelenggara dalam menghadirkan acara yang luar biasa ini. Yakinlah, saya benar-benar cinta indonesia.

Sebagai Presiden BWF, saya ingin memberi tahu Anda bahwa kami telah menganggap insiden ini sebagai pelajaran yang serius dunia baru COVID-19, dan kami berusaha untuk melakukan peningkatan. Ke depan, kami percaya hubungan jangka panjang antara Indonesia dan BWF akan tetap harmonis dan akan menjadi lebih kuat di masa depan," bunyi isi surat BWF.